"Kalau utang itu akan menjadi pertimbangan bagi Telkom. Tidak mungkin Telkom mau menerima limpahan utang dari mitranya," ujar Mustafa di gedung DPR, Jakarta, Rabu (17/6/2010).
Hingga akhir 2009, posisi kewajiban BTEL tercatat sebesar Rp 6,399 triliun. Angka ini belum memperhitungkan penebritan obligasi senilai US$ 250 juta melalui anak usahanya Bakrie Telecom Pte Ltd. Kendati demikian, Mustafa memberikan kesempatan kepada TLKM untuk mengkaji semua opsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Mustafa, manajemen TLKM dan BTEL kini masih dalam tahap pembicaraan serius soal rencana konsolidasi antara keduanya. Pemerintah belum dapat memastikan bentuk konsolidasinya, apakah melalui opsi merger atau akuisisi.
"Mereka masih menjajaki kualifikasi, itu akan dilaporkan kepada kami baru kita tentukan kemana arah yang seharusnya. Masih terbuka semua opsi dan peluangnya," ujarnya.
Direktur BTEL Rakhmat Djunaedy juga mengaku belum dapat memberikan informasi apa pun mengenai realisasi kerja sama tersebut. "Sampai saat ini belum ada rencana apa pun yang bisa dilaporkan ke publik. Nanti akan kita sampaikan bila sudah waktunya," jelas Rakhmat.
Â
Â
(dro/qom)










































