RI Tak Terlalu Terpengaruh Kebijakan Mata Uang China

RI Tak Terlalu Terpengaruh Kebijakan Mata Uang China

- detikFinance
Senin, 21 Jun 2010 18:20 WIB
RI Tak Terlalu Terpengaruh Kebijakan Mata Uang China
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai keinginan China untuk membuat mata uangnya lebih fleksibel tidak akan  berdampak signifikan pada pasar perdagangan dan finansial Indonesia.

"Pergerakan nilai tukar Yuan yang dilepas tidak akan berdampak pada beralihnya arus modal asing di negara berkembang  Asia. Dengan kata lain inflow ke Asia khususnya Indonesia tetap akan deras," ujar Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (21/6/2010).

Perry menilai, selama ini kurs Rupiah terhadap yuan relatif stabil, sehingga currency gain (keuntungan dari selisih niali tukar) tidak akan terlalu besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keadaan seperti ini sangat kondusif bagi capital inflow, khususnya dari spekulan asing," tuturnya.

Lebih lanjut Perry menjelaskan, dari sisi perdagangan kegiatan ekspor Indonesia ke China lebih banyak dilakukan dalam bentuk komoditas dimana tidak terlalu terpengaruh pada pergerakan kurs.

"Kegiatan ekspor komoditas lebih ditetukan kekuatan demand (permintaan) bukan kurs," tegasnya.

Dengan kondisi ekonomi yang tumbuh menguat, dipastikan ekspor komoditas akan tetap tumbuh. Selain itu impor barang-barang dari China dengan apresiasi Yuan yang cepat akan membuat mahalnya barang China di Indonesia.

"Intinya apresiasi Yuan malah akan berdampak positif," tukasnya.

Pemerintah China telah mengumumkan akan membuat mata uangnya lebih fleksibel, sehingga membuncahkan harapan Beijing akan segera melakukan penyesuaian atas patokan mata uangnya.

Langkah itu langsung membuat yuan menguat ke titik tertingginya dalam 5 tahun terakhir, sementara bursa-bursa Asia langsung melonjak tajam.

Pada perdagangan hari ini, yuan melonjak hingga 6,7974 dolar, yang merupakan titk tertinggi sejak Beijing melakukan revaluasi pada Juli 2005. Namun yuan masih berada di kisaran yang diperbolehkan di level 6,7934 hingga 6,7934 dolar.

China secara efektif telah mematok mata uangnya di kiasaran 6,8 dolar sejak tahun 2008. Yuan hanya diperbolehkan bergerak pada kisaran 0,5% di sekitar patokan tersebut.

Pasar menyambut baik pernyataan Bank Sentral China yang akhirnya melunak dan mau meningkatkan fleksibilitas mata uangnya. Bursa-bursa regional juga langsung melonjak seperti Shanghai menguat 2,90%, Hong Kong naik 3,08%, Tokyo naik 2,43%, Sydney naik 1,33% dan Singapura naik 1,62%, Jakarta naik tipis 0,42%.

(dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads