Mengawali perdagangan, bursa Wall Street langsung semarak mengikuti rally yang sudah terjadi di bursa Asia dan Eropa sebelumnya. Investor merespons positif rencana China untuk membuat mata uangnya lebih fleksibel. Akibat rencana tersebut, yuan melonjak ke titik tertingginya dalam 5 tahun terakhir.
Namun secara perlahan, rally itu berbalik arah. Investor berpikir ulang akan efektivitas dari fleksibilitas yuan yang bertahap itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan Senin (21/6/2010), indeks Dow Jones industrial average ditutup melemah tipis 8,23 poin (0,08%) ke level 10.44,41. Indeks Standard & Poor's 500 melemah tipis juga 4,30 poin (0,38%) ke levle 1.113,21 dan Nasdaq melemah 20,71 poin (0,90%) ke level 2.289,09.
Saham-saham sektor ritel justru mendapatkan sentimen negatif atas rencana tersebut karena dikhawatirkan akan menambah biaya impor dari China. Saham Wal-Mart Stores Inc turun 1%, dan indeks ritel S&P turun 1,7%.
"Sepertinya segala sesuatu yang berbiaya rendah di ritel adalah buatan China," ujar Brian Gendreau, analis dari Financial Network Investment Corporation.
Sedangkan Nasdaq melemah karena melorotnya saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, seperti Amazon.com yang turun 2,6%, Google Inc turun 2,3%, Microsoft Corp turun 1,9%.
Perdagangan berjalan tidak terlalu ramai dengan transaksi di New York Stock Exchange hanya sebesar 7,98 miliar lembar saham, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebesar 9,65 miliar.
(qom/qom)











































