"Total proyek bisa mencapai US$ 300-500 juta untuk proyek-proyek kita, yaitu jalan tol, pipanisasi gas dan pembangkit listrik," ungkap Presiden Direktur BNBR Bobby Gafur S Umar di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (25/6/2010).
Menurutnya, perseroan siap menggandeng investor luar negeri untuk merealisasikan proyek tersebut. Valuasi proyek ini pun, berjangka waktu 2-3 tahun ke depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari proyek tersebut, kita masih dominan kepemilikan sahammnya," ujarnya.
Sementara itu, untuk investasi di bisnis jasa keuangan sendiri, perseroan siap menganggarkan dana US$ 200-300 juta. Dana ini termasuk nilai investasi pada portofolio BNBR yang telah ada, ataupun investasi baru.
"Ini investasi bisa berupa akuisisi perusahaan melalui co-invesment. Sekitar US$ 200-300 juta. Akuisisi ini juga sejalan dengan yang ada di dalam industru kita," paparnya.
Bobby pun mengakui sudah ada tiga perusahaan yang siap melakukan kerja sama, dengan mekanisme co-investment, meskipun dirinya belum menyebut nama-namanya.
Direktur BNBR, Eddy Soeparno saat ditemui di tempat yang sama pun mengakui, siap menyerap saham baru yang diterbitkan (rights issue) dari anak usahanya PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). BNBR siap bersaing dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TKLM), dalam mengeksekusi saham BTEL tersebut.
Perseroan sedang melakukan kajian secara internal, atas alternatif pilihan yang akan dieksekusi. Menyerap atau tidak. Jika tidak, akan kepemilikan saham BTEL akan terdilusi.
"Tunggu pak Bobby, akan subscribe atau tidak (rights issue BTEL). Kalau iya, saya tinggal cari dananya saja. Kita lagi kaji secara internal. Kita tidak pakai advisor luar. Kalau pemegang saham yang lain, kan punya advisor sendiri-sendiri," papar Eddy.
(wep/dro)











































