"Akan tetapi perlu dicatat bahwa penguatan indeks tersebut bersifat anomali di tengah koreksi bursa regional dan global, hal ini tercermin dari tipisnya volume dan value transaksi yang tercipta di bursa," ujar Muhammad Fikri, analis menengah dari BNI dalam reviewnya yang dikutip detikFinance, Selasa (29/6/2010).
Oleh karena itu, diluar kondisi anomali tersebut, pergerakan IHSG selama seminggu kedepan diprediksi masih akan akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah mengikuti arah pergerakan bursa regional dan bursa dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, dari Toronto, Kanada, pada akhirnya pasar merespons hasil pertemuan G-20 dengan tidak antusias karena pasar menganggap hasil dari pertemuan tersebut belum akan memberikan dampak yang nyata dalam upaya pemulihan ekonomi global dalam waktu dekat ini. Pasar menilai hasil pertemuan G-20 masih memberikan solusi yang bersifat konseptual dan jangka panjang.
Seperti diberitakan dari hasil pertemuan G-20, Akhirnya disepakati beberapa langkah yang perlu diambil untuk mendorong pemulihan ekonomi global. Yang pertama adalah kesepakatan Negara G-20 untuk menekan defisitΒ anggaran pemerintah selama tiga tahun kedepan, dengan mengurangi anggaran untuk stimulus pertumbuhan ekonomi.
Kesepakatan ini merupakan kemenangan para pemimpin Eropa, China dan Jepang, yang sejak awal lebih peduli ke arah pengelolaan dan pengendalian utang pemerintahan dibandingkan upaya untuk terus memaksakan pertumbuhan ekonomi dengan terus mendorong stimulus fiskal seperti yang diharapkan oleh pemerintah AS.
Kesepakatan ini sedikit mengecewakan Negara berkembang seperti brazil. Menurut Menteri Keuangan Brasil Guido Mantega, Apabila Negara-besar besar dunia seperti Uni eropa, China, dan Jepang mengurangi stimulus ekonomi mereka dan lebih fokus terhadap penyesuaian fiskal dalam negerinya maka dikhawatirkan proses pemulihan ekonomi dunia secara menyeluruh akan menjadi sangat lambat.
Β
Selanjutnya para pemimpin G-20, sepakat untuk menghindari segala bentuk 'proteksi pasar' serta sepakat untuk mendorong hubungan perdagangan antar regional ditengah gencarnya pemotongan anggaran stimulus ekonomi yang dilakukan oleh masing-masing negara.
Kesepakatan ketiga adalah para pemimpin G-20, yang merefleksikan 85% dari ekonomi dunia sepakat untuk memperkuat struktur permodalan terhadap sistem perbankan di Negara nasing-masing. Para pemimpin Negara G-20 sepakat sistem perbankan kedepan akan terus didorong untuk meningkatkan pengawasannya terhadap para "hedge fund", perusahaan pemeringkat kredit dan transaksi-transaksi berbasis derivatif. Pengawasan ini diharapkan dapat mengurangi resiko yang dihadapi sektor perbankan, khususnya di tengah kondisi pemulihan ekonomi yang masih sangat labil dan rapuh.
"Ditengah rendahnya antusiasme investor terhadap hasil pertemuan G-20 tersebut, Sentimen penting lainnya yang akan menjadi trigger pergerakan bursa dunia serta IHSG minggu ini adalah data dari ekonomi AS yang akan dirilis minggu ini," ujar Fikri.
Seperti diinformasikan, minggu ini pemerintah AS akan merilis beberapa indikator ekonomi penting negaranya meliputi data pertumbuhan pekerjaan, angka pengangguran serta data belanja konsumen. Dari data tersebut, pasar memprediksi untuk bulan Juni jumlah pekerjaan non-pertanian akan turun menjadi 110.000 pekerjaaan, sebagai dampak dari pengurangan pekerja disektor pemerintah.
Disisi lain pasar juga memprediksi angka pengangguran di AS bulan ini akan naik menjadi 9,8% setelah bulan lalu berada pada angka 9,7%. Angka ini tidak berbeda jauh dibandingkan angka pengangguran terendah AS pada bulan oktober tahun lalu diangka 10,2%.
Sedangkan satu-satunya peluang sentimen positif datang dari prediksi meningkatnya konsumsi masyarakat AS di bulan Mei, prediksi tersebut merupakan kabar baik mengingat peningkatan belanja konsumen menggambarkan meningkatnya kepercayaan masyarakat di AS untuk terus bertransaksi sehingga dapat terus mendorong tumbuhnya pasar dalam negeri.
"Minggu ini para investor diseluruh dunia akan fokus menanti realisasi dari data tersebut diatas untuk melihat kemampuan ekonomi AS dalam mendorong pemulihan ekonomi. Para investor masih akan terus fokus terhadap informasi penting dari AS mengingat hingga saat ini ekonomi AS masih merupakan benchmark terhadap upaya pemulihan ekonomi dunia," paparnya.
(qom/qom)











































