Mengikuti pergerakan bursa Asia dan Eropa yang sudah jatuh sebelumnya, bursa Wall Street dibuka langsung melorot. Kekuatan sistem perbankan untuk menghadapi krisis kembali dipertanyakan karena investor khawatir tentang adanya potensi kekurangan likuiditas lebih dari 100 miliar euro menyusul pembaran kembali dana talangan senilai 442 miliar pada Kamis kemarin.
Pada perdagangan Selasa (29/6/2010), indeks Dow Jones ditutup merosot 268,22 poin (2,65%) ke level 9.870,30. Indeks S&P 500 juga melemah 33,33 poin (3,10%) ke level 1.041,24 dan Nasdaq melemah 857 poin (3,85%) ke level 2.135,18.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap orang membicarakan tentang level 1.040. Pasar mengalami crash, S&P akan meluncur ke 900," ujar marc Pado, analis dari Cantor Fitzgerald seperti dikutip dari Reuters, Rabu (30/6/2010).
Saham-saham yang sensitif terhadap sektor perekonomian seperti material, industri dan finansial rontok. Saham Boeing Co anjlok 6,3%, Caterpillar rontok 5,5%.
Sebelumnya Conference Board juga mengkoreksi indeks ekonomi utamanya untuk China pada April menjadi 0,3% dari sebelumnya sebesar 1,7%. Hal itu langsung memicu investor untuk membuang aset-aset yang berisiko sehingga memicu aksi jual glonal.
Data lainnya adalah indeks Keyakinan Konsumen AS yang anjlok selama Juni, setelah 3 bulan sebelumnya naik. Indeks Keyakinan AS turun tajam menjadi 52,9 poin dari sebelumnya 62,7 pada Mei. Padahal analis mengharapkan angka 62.
"Hari dimulai dengan masalah di China yang buruk. Kemudian dilanjutkan dengan indeks Keyakinan Konsumen dan ini semua berangkat dari sana," ujar Joe Saluzzi, analis dari Themis Trading.
Perdagangan berjalan sangat ramai dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 11,38 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 9,65 miliar.
(qom/qom)











































