Luncurkan Reksa Dana Pendapatan Tetap, Sinarmas Bidik Rp 2 Triliun

Luncurkan Reksa Dana Pendapatan Tetap, Sinarmas Bidik Rp 2 Triliun

- detikFinance
Rabu, 30 Jun 2010 14:16 WIB
Luncurkan Reksa Dana Pendapatan Tetap, Sinarmas Bidik Rp 2 Triliun
Jakarta - PT Sinarmas Sekuritas bakal meluncurkan produk Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT) dengan total dana Rp 2 triliun, sebagai alternatif pemindahan dana KPD dengan jumlah yang sama. Ini bertujuan agar, nasabah yang sudah terdaftar tidak beralih ke sekuritas lain. Tahap awal nilai RDPT ditargetkan mencapai Rp 500 miliar di tahun 2010.

Demikian disampaikan Direktur Operasi Sinarmas Sekuritas Suherli saat ditemui di Hotel Mulia Senayan, Jakarta Rabu (30/6/2010).

"Total RDPT Rp 2 triliun, sebagai penggantian KPD kami yang saat ini Rp 3 triliun. Sebesar Rp 2 triliun masuk RDPT dan Rp 1 triliun kami tawarkan ke produk kita di reksa dana yang sudah ada," jelas Suherli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan, RDPT yang akan meluncur di semester-II 2010 ini akan bernilai Rp 500 miliar. RDPT nantinya akan dimasukan dalam instrumen investasi macam saham dan obligasi.

"Macam-macam, saham dan obligasi. Kita juga inginnya dengan tenor 3 tahun. Kalau 1 tahun terlalu pendek," ucapnya.

Hingga saat ini, perseroan mencatat dana kelolaan Rp 6 triliun. Nilai ini akan terus dipelihara hingga akhir tahun 2010.

"Kita memiliki Rp 6 triliun. Pengalihan sebagian yang berupa KPD akan selesai bulan Juli ini. Rp 2 triliun ini sementara waktu kita masukkan di bank kustodian," jelas Suherli.

Sinarmas, telah memiliki sembilan instrumen reksadana, yang terdiri dari reksadana saham dan pendapatan tetap. Perseroan belum berencana menambah produk baru, diluar RDPT yang sedang mereka siapkan.

"Sebesar 80% kita itu Fix income, sisanya saham. Untuk baru, belum. Kita masih fokus ke RDPT," paparnya.

Untuk target jangka panjang, Sinarmas pun akan meluncurkan produk reksadana syariah. Produk ini akan terbit di awal tahun 2011.

"Kita lihat terlebih dahulu, istrumen investasinya seperti apa. Dari sisi investor juga. Sedang dicari waktu kapan (waktu penerbitan," imbuh Suherli.

 

 

(wep/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads