Regional : Mayoritas saham-saham Asia menguat, dipimpin oleh produsen komoditas, setelah pemerintah Australia mencapai kesepakatan dengan perusahaan tambang terkait pajak. Sementara, produsen otomotif terkoreksi. BHP Billiton Ltd. dan Rio Tinto Group menguat sedikitnya 1.4% di Sydney. Hyundai Motor Co (-2.2%) di Seoul. Nikkei (+0.5%) 9235 S&P/ASX 200 (+0.6%) 4,264 KOSPI (+0.12%) 1,688 STI (+0.51%) 2834.
Commodity: Minyak turun di New York melanjutkan penurunan mingguan terbesar dalam 8 minggu, akibat kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi di AS dan China yang dapat melemahkan permintaan di kedua negara pengkonsumsi minyak terbesar itu. Minyak berlanjut turun untuk hari kelima setelah kenaikan sektor manufaktur di AS melambat selama bulan lalu. Departemen Perburuan AS melaporkan kenaikan pengangguran pekan lalu. Pertumbuhan manufaktur China melambat untuk bulan kedua selama Juni. Hal ini mempertebal keyakinan laju ekspansi ekonomi negara ini tengah melambat. WTI Crude (0.0) $ 72.9/barrel, Gold 100 (+0.4%) USD 1,203/t oz, CPO (-0.9%) RM 2,430/MT, Nickel (-3.8%) USD 19,000/MT, Tin (-2.7%) USD 16,960/MT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Economic & Industrial News
Banking: Pertumbuhan Kredit Bank BUMN Bisa di Atas 20%
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meminta bank-bank BUMN untuk revisi target pertumbuhan kreditnya tahun ini menjadi di atas 20 persen. Perubahan ini dilakukan menyusul rencana revisi pertumbuhan kredit Bank Indonesia (BI). Menurut Mustafa, pemberian bunga kredit yang cukup rendah tersebut bisa memicu pertumbuhan kredit bank pelat merah lebih tinggi lagi. Ia pun berharap, bank-bank BUMN lainya secara bertahap bisa menurunkan suku bunga kreditnya hingga di bawah 10 persen secara keseluruhan. Pada kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Riswinandi mengaku pihaknya akan mengkaji revisi kenaikan target kredit dari semula diproyeksi tumbuh sekitar 18%-20%.
Economic: Dubes AS: Rokok Kretek Indonesia Masih Negosiasi
Duta Besar AS untuk Indonesia Cameron R Hume menegaskan bahwa masalah pelarangan rokok kretek masuk AS saat ini masih taraf negosiasi Indonesia-AS. "Itu (pelarangan) karena pemerintah kami mempunyai UU yang melarang masuknya tembakau yang berasa ke negara kami," katanya di Surabaya, Kamis malam. Di sela-sela peringatan Hari Kemerdekaan AS atau "Independence Day" (Fourth of July) di Surabaya, ia mengatakan Indonesia sendiri menilai pelarangan AS itu menyalahi aturan "World Trade Organization" (WTO). "Karena itu, AS-Indonesia saat ini melakukan negosiasi, tapi kami tahu apa yang dihasilkan dalam proses negosiasi itu. Kita tunggu saja," katanya, didampingi Konsul Jenderal AS di Surabaya, Carryn McClelland. Sebelumnya, Indonesia membawa masalah pelarangan rokok kretek itu ke Sidang Dispute Settlement Body (DSB) atas diberlakukannya Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act of 2009 yang melarang produksi dan penjualan rokok beraroma, termasuk kretek.
China: Aktivitas Manufaktur Melambat
Aktivitas manufaktur China pada Juni lalu melambat. Hal ini mengindiksikan upaya pemerintah mencegah gelembung perekonomian menunjukkan hasil. Survei HSBC Purchasing Manager Index (PMI) menyatakan, indeks aktivitas bisnis Negeri Panda bulan lalu turun menjadi 50,4 poin dari bulan sebelumnya 52,7 poin. Indeks di atas 50 berarti terjadi ekspansi aktivitas bisnis dan di bawah 50 menandakan kontraksi. Perlambatan indeks manufaktur secara moderat merupakan dampak dari rangkaian pengetatan belanja, kata Kepala Ekonom HSBC China Qu Hongbin.
Energy: TDL naik, biaya operasional melonjak
Para pebisnis di Jakarta memperkirakan akan terjadi lonjakan biaya operasional dan produksi pada semua sektor hingga lebih dari 30% akibat dampak penaikan tarif dasar listrik (TDL) rata-rata 10% per 1 Juli 2010. Wakil Ketua Bidang Usaha Mekro, Kecil, Menengah dan Koperasi Kadin Jakarta Nasfi Burhan mengatakan penaikan biaya tersebut dipicu oleh penaikan hampir seluruh harga barang dan jasa menyusul adanya ketetapan TDL yang baru.
Property: Fasilitas Likuditas Perumahan Tertunda
Rencana Kementerian Perumahan (Kemenpera) menempatkan dana pemerintah di perbankan untuk membantu likuiditas bank dalam penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) urung dilaksanakan. Pasalnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merasa masih perlu mengkaji dasar hukum bagi pnempatan dana milik pemerintah di bank-bank penyalur KPR, sehingga rencana yang disusun Kemenpera dan ditargetkan efektif pada 1 Juli lalu tidak bisa dijalankan. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan pihaknya lebih siap untuk menjalankan kebijakan likuiditas via subsidi bunga. Sebab program itu memang telah ada sebelumnya dan semua persyaratan administrasi telah siap.
IPO: Deutsche Bank-Credit Suisse Underwriter KS
PT Krakatau Steel (KS) telah menunjuk Deutsche Bank dan Credit Suisse sebagai penjamin pelaksana emisi (underwriter) penawaran umum perdana (IPO) saham pada 2H10. Perseroan menargetkan perolehan dana Rp2 triliun dari pelepasan minimal 20% saham.
Trans: 2 Maskapai penerbangan bebas dari airline ban UE
Uni Eropa (UE) akan mengeluarkan dua maskapai Indonesia dari daftar larangan terbang (airlines ban) ke wilayah udara Eropa pekan depan. Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S. Gumay mengatakan kedua maskapai itu yakni PT Metro Batavia (Batavia Air) dan Indonesia AirAsia (IAA).
Corporate News
NISP: IFC Lepas Saham di OCBC NISP
OCBC Bank Singapura, meningkatkan kepemilikan sahamnya di PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) sebesar 7,17% yang sebelumnya dimiliki IFC. Usai peningkatan ini, saham OCBC Bank Singapura menjadi 81,9%. Menurut President Director & CEO Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja, pembelian 7,17% saham tersebut didapat dari pemilik sebelumnya, yaitu International Finance Corporation (IFC), World Bank Group. Penjualan saham NISP oleh IFC ini sesuai dengan kebijakan investasinya, yaitu memberikan bantuan teknis ke perusahaan-perusahaan yang sedang berkembang hingga dapat berkembang dengan baik. IFC pada umumnya melakukan investasi di satu perseroan selama lima sampai tujuh tahun. Di NISP sendiri, investasinya sudah mencapai 9 tahun, atau sejak tahun 2001.
BBRI: Kredit BRI Tumbuh Signifikan
Meski kredit secara nasional tumbuh kurang memuaskan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) tetap mencatat pertumbuhan kredit berarti. Per Maret 2010, kredit BRI yang disalurkan mencapai Rp 208,906 triliun, atau naik 26,47% dari posisi Maret 2009. Jika melihat pertumbuhan itu, BRI optimis mencapai target pertumbuhan 2010 yang ditetapkan 20%-25% dari target 2009. BRI juga terus mendukung harapan pemerintah agar bank turut menopang pertumbuhan sektor riil. Per 1 Juli, BRI menurunkan suku bunga kredit untuk kali kelima sejak 2009.
BEKS: Keluar dari Pengawasan Intensif BI
Bank Indonesia (BI) menegaskan PT Bank Eksekutif Tbk (Eksekutif) telah memenuhi komitmennya untuk menekan rasio kredit bermasalahnya (NPL). Bank Eksekutif kini telah keluar dari pengawasan intensif bank sentral. Deputi Gubernur Bank Indonesia S. Budi Rochadi Bank Eksekutif telah memenuhi persyaratan untuk keluar dari pengawasan intensif karena rasio NPL sudah di bawah 5%. Mengenai rencana perusahaan untuk melakukan rebranding menjadi Bank Pundi Indonesia, Budi mengatakan hal tersebut diperbolehkan.
BMRI: Rights issue Bank Mandiri tinggal selangkah lagi
Persetujuan pelaksanaan penawaran umum terbatas (rights issue) PT Bank Mandiri Tbk tinggal selangkah lagi untuk dilimpahkan kepada legislatif setelah Komite Privatisasi di tingkat Kementrian BUMN dan Kementrian Keuangan memberikan persetujuan. Direktur Keuangan Bank Mandiri Pahala Mansyuri mengatakan proses perizinan di tingkat Komite Privatisasi tinggal menunggu restu dari Menko Perekonomian yang diharapkan dalam waktu dekat ini selesai, sehingga masa persidangan DPR bisa dibahas.
ADMF: Adira Finance kucurkan pembiayaan Rp8,8 triliun
PT Adira Dinamika Multifinance Tbk membukukan pembiayaan baru hingga Mei tahun ini mencapai Rp8,8 triliun, naik 85% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan pembiayaan baru (booking) tersebut seiring dengan meningkatnya permintaan kredit dari konsumen dan didukung dengan gencarnya penetrasi bisnis, strategi pemasaran, dan kualitas layanan. Direktur Bidang Pembiayaan Mobil Adira Dinamika Multifinance (Adira Finance) Hafid Hadeli mengatakan pertumbuhan bisnis tahun ini cukup meningkat signifikan.
BIPI: Tuntaskan Akusisi ELSA
PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) merampungkan akuisisi sisa saham PT Elnusa Tbk (ELSA) milik PT Tri Daya Esta sebanyak 12,55% pada pekan ini. Dengan akusisi tersebut, BIPI resmi menguasai 37,5% saham Elnusa.
BUMI: Tata Mulai Lepas KPC-Arutmin
PT Tata Power Ltd, mulai melepas sahamnya secara tidak langsung di dua anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia. Pelepasan saham tersebut ditempuh melalui penerbitan saham seri B oleh dua unit special purpose vehicle (SPV) Tata Power yang menguasai 30% saham KPC-Arutmin, Bhira Investments Ltd dan Bhivpuri Investments Ltd.
CMNP: Naikkan Target Pendapatan
Volume penggunaan jalan tol tahun ini diperkirakan meningkat seiring semakin tingginya mobilitas penduduk. Oleh karena itu, perusahaan jasa konstruksi PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) meningkatkan target pendapatan 25%. Direktur Utama CMNP Shadik Wahono mengatakan, tahun ini perseroan menargetkan pendapatan konsolidasi Rp 720 miliar atau naik 25,8 persen dari pendapatan 2009 sebesar Rp 572 miliar.
JSMR: 1H, Pendapatan Rp2,1 Triliun
PT Jasa Marga Tbk (JSMR) diperkirakan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp2,1 triliun pada 1H10. Pencapaian ini sangat didukung oleh peningkatan jumlah kendaraan yang lewat jalan tol yang dioperasikan perseroan. Pihaknya, menargetkan pendapatan tahun ini sebesar Rp4,2 triliun dan bukan Rp4,4 triliun.
AALI: Incar Produksi CPO 1,08 Juta Ton
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) optimsitis bisa memproduksi minyak sawit mentah (CPO) tahun ini sebanyak 1,08 juta ton. Hingga Mei 2010, produksi CPO perseroan tercatat 378.674 ton dengan volume penjualan 373.631 ton. Pada 1Q10, AALI membukukan laba bersih Rp271,98 miliar atau naik 24,92% dibanding periode yang sama 2009 sebesar Rp217,72 miliar. Adapun pendapatan naik 16,43% dari Rp1,4 triliun menjadi Rp1,6 triliun.
Corporate Action
- Hari ini (2/7), cum dividen tunai Duta Graha Indah Tbk (DGIK) Rp 2,5 per saham Ex date (5 Jul 2010)
- Hari ini (2/7), cum date rights issue Bakrieland Development Tbk (ELTY) rasio 1(new) : 1(old) Rp 160 per saham. Ex date (5 Jul 2010)
Technical Picks
- PTBA (16700) - Spec Buy
- TLKM (7700) - Spec Buy
- ASII (47500) - Buy on Weakness
- BBNI (2325) - Spec Buy
(dro/dro)











































