Demikian disampaikan oleh Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) Fuad Rahmany saat ditemui di Kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (2/7/2010).
"Kalau saat ini sih belum (bubble), bahkan sebenarnya kita lihat terjadi koreksi. Ada koreksi mengenai pemulihan ekonomi global, waktu itu diperkirakan akan cepat. Sekarang orang melakukan koreksi pemulihan akan lambat. Sehingga itu juga tercermin dalam pertumbuhan dari indeks Dow Jones, bursa-bursa dunia, termasuk indeksnya Indonesia," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya rasa itu (bubble) lebih global ya. Artinya waspada saja," ujarnya
Fuad menyatakan terjadinya gelembung ekonomi tidak bisa diprediksi oleh pasar. Bahkan, pasar tidak mampu melakukan tindakan antisipasi ataupun solusi untuk mengatasi bubble ekonomi ini.
"Jadi bubble itu suatu karakteristik dari perekonomian dunia dari 20 tahun dan sebagainya. Dan bahkan beberapa puluh tahun ini selalu muncul dan pasar itu nggak pernah bisa mengantisipasi dan juga gak pernah punya solusi untuk bagaimana menghambat terjadinya bubble," ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Presiden Boediono menyatakan dalam beberapa bulan terakhir, pergerakan ekonomi juga mulai ditopang oleh membaiknya ekspor.
Menurut Boediono, pemerintah memang bukan sebagai penggerak utama dalam menopang pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah hanya berperan sebagai katalisator atau pendorong, dengan memperbaiki perizinan dan aturan-aturan yang menghambat ditambah membangun fasilitas infrastruktur.
Namun, katanya, pemerintah juga akan menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan stabil. Pemerintah akan menghindari sektor-sektor penggerak ekonomi yang bersifat spekulatif dan sporadis.
(nia/dnl)











































