Demikian disampaikan Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito saat dihubungi detikFinance di Jakarta, Minggu (4/7/2010).
Eddy menambahkan, manajeman CPRO disarankan untuk bertemu dengan pemegang surat utang obligasi senilai US$ 17,9 juta. Pertemuan diharapkan menghasilkan solusi baru terkait gagal bayar (default), akibat serangan virus yang berdampak terganggunya kinerja perseroan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa waktu lalu, wasit pasar modal ini memang telah memberhentikan sementara (suspen) perdagangan saham CPRO, terkait perkambangan ebih lanjut mengenai standstill agreement dari perseroan.
"Bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek CPRO di seluruh pasar mulai sesi I perdagangan efek tanggal 29 Juni 2010 sampai dengan pengumuman lebih lanjut," jelas Kadiv Perdagangan Saham BEI Andre PJ Toelle
Bursa juga mengaku tengah meminta penjelasan lebih lanjut atas keterbukaan informasi terkait hal tersebut kepada perseroan.
Pada 25 Juni lalu, CPRO telah mengungkapkan jika negoisasi masih berlangsung terkait dengan restrukturisasi notes dengan bondholders. Pada kesempatan itu, perseroan memang telah mengatakan jika mungkin saja kesepatan belum akan tercapai pada tanggal 28 Juni.
Dan apabila kesepakatan belum terjadi pada saat jatuh tempo, maka perseroan bakal mengupayakan memperpanjang peridoe standstill seperti yang tertera dalam standstill agreement.
Sebelumnya, lembaga rating international, Fitch Ratings menilai CP Prima kemungkinan besar tidak mampu membayar bunga kupon tepat waktu seiring kian memburuknya kinerja keuangan. Karena itu, pemegang obligasi meminta perseroan harus melunasi bunga kupon setiap tahun kendati surang utang baru jatuh tempo dua tahun mendatang.
Seiring memburuknya kinerja keuangan dan serangan virus yang mengganggu tambak udang CP Prima, beberapa pemegang obligasi dan investor mengimbau otoritas bursa untuk menyuspensi perdagangan saham CPRO.
(wep/ang)











































