IHSG Belum Bisa Lepas dari Pengaruh China dan AS

Analisa Sepekan

IHSG Belum Bisa Lepas dari Pengaruh China dan AS

- detikFinance
Senin, 05 Jul 2010 07:29 WIB
IHSG Belum Bisa Lepas dari Pengaruh China dan AS
Jakarta - Bursa Indonesia sepanjang pekan lalu masih saja bergerak melemah, akibat pengaruh sentimen negatif dari China dan AS. Pola tersebut diprediksi akan berlanjut pada pekan ini, meski akan tertahan oleh sentimen positif pembagian dividen.

"Bursa Indonesia menutup semester pertama 2010 di angka 2871, Setelah dalam sepekan IHSG melemah sebesar 2.84% akibat kuatnya sentimen negatif dari China dan Amerika," jelas Muhammad Fikri, analis menengah dari BNI dalam reviewnya, Senin (5/7/2010).

Ia menjelaskan, minggu lalu bursa dunia pada umumnya dan IHSG pada khususnya dibuka dengan munculnya kekhawatiran terhadap perlambatan pemulihan ekonomi dunia, dimana tanda-tanda melambatnya pemulihan ekonomi muncul setelah data pertumbuhan sektor manufaktur dari China hingga Eropa turun melebihi prediksi pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perlambatan pertumbuhan sektor manufaktur tersebut ditandai dengan kekhawatiran penurunan yang signifikan terhadap nilai ekspor China dan Negara di zona Eropa. Kekhawatiran penurunan ekspor China terjadi setelah China bersedia untuk mengevaluasi nilai yuan terhadap mata uang utama lainnya di dunia sehingga membuat produk china akan menjadi lebih mahal di pasar.

Disamping hal tersebut, melambatnya sektor manufaktur di China dan Eropa terjadi sebagai implikasi dari kebijakan Negara Eropa yang tetap memangkas anggaran untuk stimulus fiskal sehingga membatasi permintaan barang dari negara-negara yang mengimplementasikan pemangkasan defisit anggaran.

"Data diatas mengawali penurunan bursa di Asia dan Eropa minggu lalu, yang kemudian berlanjut selama seminggu setelah Amerika merilis data ekonomi yang mengecewakan," imbuh Fikri.

Tidak hanya sampai di China dan Eropa, karena beberapa hari kemudian tanda-tanda ikut melambatnya pertumbuhan ekonomi Amerika sebagai Ekonomi terbesar dunia muncul setelah data pertumbuhan sektor manufaktur dan pertumbuhan pekerjaan di amerika turun melebihi perkiraan pasar.

Sektor manufaktur di Amerika pada bulan juni tumbuh pada angka terendah tahun ini sebagai dampak dari berkurangnya permintaan dari pasar luar negeri. Sedangkan melalui Departemen Ketenaga kerjaan Amerika diberitakan, dimana untuk pertamakalinya tahun ini, pertumbuhan pekerjaan di amerika bulan Juni turun sebesar 125.000 pekerjaan atau turun diatas prediksi pasar, disisi lain pertumbuhan pekerjaan di sektor swasta tumbuh sebesar 83.000 atau tumbuh dibawah prediksi pasar diangka 110.000.

Sentimen positif yang sedikit memberi angin segar bagi ekonomi Amerika adalah dirilisnya angka pengangguran di Amerika pada bulan Juni yang berada pada angka 9.5% atau merupakan angka terendah sejak juli 2009. Walaupun demikian, sangat kuatnya sentimen negatif yang dirilis mendorong Indeks DowJones melemah selama 7 hari berturut-turut, atau merupakan penurunan terlama sejak krisis keuangan tahun 2008 yang lalu.

"Kekhawatiran terhadap kondisi Ekonomi Amerika yang menurun juga menekan harga minyak, dimana pada penutupan minggu lalu harga minyak ditutup pada $72.14 per barel yang merupakan harga terendah dalam tiga minggu terakhir," jelasnya.

Saat ini, lanjut Fikri, para investor sangat khawatir terhadap data-data yang dirilis baik itu dari Asia, Eropa hingga Amerika, dimana hampir semua data tersebut menunjukkan tanda-tanda bahwa proses pemulihan ekonomi sedang melambat. Khusus untuk kondisi Amerika, dirilisnya data ketenagakerjaan di AS membuat pasar semakin khawatir bahwa ekonomi Amerika akan membutuhkan waktu yang bertahun-tahun untuk dapat mengembalikan kembali lebih dari 8 juta pekerjaan yang telah hilang akibat krisis yang terjadi sejak Desember 2007.

Ia menabahkan, menguatnya kekhawatiran terhadap perlambatan proses pemulihan ekonomi dunia diprediksi akan membayangi pergerakan IHSG minggu depan. kekhawatiran tersebut akan membuat para investor cenderung untuk 'wait and see', khususnya terhadap sentimen yang akan muncul dari Negara-negara besar dunia.

"Satu-satunya sentimen positif dari dalam negari adalah pembagian deviden dari beberapa emiten, walaupun demikian sentimen eksternal masih dipercaya menjadi motor penggerak IHSG minggu depan, untuk itu minggu depan IHSG diprediksi masih akan tertekan bursa regional dan masih akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah," urai Fikri.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads