Aksi Beli Netto Asing di Saham Capai Rp 2,5 Triliun

Triwulan II-2010

Aksi Beli Netto Asing di Saham Capai Rp 2,5 Triliun

- detikFinance
Selasa, 06 Jul 2010 11:03 WIB
Jakarta - Sepanjang triwulan II-2010, net beli saham oleh investor asing di bursa saham dalam negeri mencapai Rp 2,5 triliun. Jumlah ini menurun dibandingkan triwulan I-2010 yang mencapai Rp 1,3 triliun.

Pembelian saham oleh investor asing ini mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang triwulan II-2010 sebesar 4,9% ke level 2.913,7.

Pada triwulan II-2010, investor asing sempat melakukan aksi jual saham dalam negeri yang cukup besar yaitu Rp 1,65 triliun. Ini terjadi pada bulan Mei 2010, dan menyebabkan IHSG mengalami koreksi 5,8%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demikian laporan Tinjauan Kebijakan Moneter yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) yang dikutip, Selasa (6/7/2010).

BI mengatakan, jumlah pembelian saham dalam negeri oleh investor asing masih besar karena kondisi makro ekonomi dan faktor fundamental perusahaan di dalam negeri membaik. Selain itu masuknya dana asin di pasar saham dalam negeri juga berkaitan dengan rencana BI menerapkan kebijakan SBI 1 Month-Holding Period.

"Aktivitas asing tersebut pada akhirnya berpengaruh positif pada perbaikan market confidence, sebagaimana terlihat dalam kenaikan volume," demikian isi laporan BI tersebut.

Selain itu, BI menilai kinerja IHSG yang terus positif didukung oleh fundamental emiten yang kuat. Ini tercermin dari indikator Return on Asset (ROA) beberapa perusahaan yang sudah menyampaikan laporan keuangannya kepada publik pada triwulan I-2010.

Secara umum rata-rata ROA naik dari posisi Desember 2009 sebesar 7,1 menjadi 7,9 pada Maret 2010. Relatif terjaganya fundamental emiten tersebut pada akhirnya mendorong emiten untuk menyisihkan sebagian laba dalam bentuk dividen.

Peningkatan kinerja IHSG selama triwulan II-2010 belum diikuti secara merata oleh perkembangan di sisi sektoral. Sektor barang konsumsi merupakan sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi, mencapai 29,9%.

Penguatan sektor barang konsumsi didorong oleh beberapa emiten unggulan yang bergerak di bidang rokok dan makanan. Sementara itu, sektor yang paling dalam terkoreksi pertumbuhannya adalah sektor agrobisnis dan pertambangan.

Sektor tersebut sempat mengalami pertumbuhan positif di triwulan sebelumnya, namun terkena dampak volatilitas pergerakan harga komoditi global sehingga pada triwulan ini mencatat pertumbuhan negatif.
(dnl/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads