Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu yang dikutip, Senin (12/7/2010), per 8 Juli 2010 total dana asing di SUN mencapai Rp 166,15 triliun. Jumlah ini naik Rp 2,02 triliun dari hari sebelumnya yang sebesar Rp 164,13 triliun. Porsi asing di SUN saat ini adalah sebesar 26,5%.
Sampai 8 Juli 2010, total SUN yang diperdagangkan mencapai Rp 626,43 triliun. Porsi terbesar tetap dipegang oleh perbankan yang jumlahnya mencapai Rp 228,74 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antusiasme asing terhadap SUN milik pemerintah ini berdampak kepada peningkatan nilai rata-rata transaksi harian obligasi korporasi dan SUN. Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkirakan rata-rata transaksi harian obligasi mencapai Rp 6 triliun atau meningkat 100% dibandingkan tahun lalu.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Wan Wei Yiong mengatakan, hingga saat ini nilai rata-rata transaksi harian produk-produk obligasi sudah menyentuh di angka Rp 4-5 triliun. Dan seiring dengan semakin aktifnya transaksi di pasar modal tahun ini, nilai rata-rata transaksi obligasi diperkirakan akan terus meningkat.
Namun BEI masih mempertanyakan soal peningkatan transaksi rata-rata harian ini. Sebab, BEI kini memiliki fasilitas Penerima Laporan Transaksi Obligasi (PLTO) yang mewajibkan investor melaporkan setiap transaksi obligasi yang dilakukannya paling lambat setengah jam setelah transaksi.
Sebelumnya, BEI menargetkan untuk emisi obligasi korporasi di 2010 sebanyak 34 emisi dan obligasi negara sebanyak 16 emisi. Nilai rata-rata volume perdagangan SUN diperkirakan Rp 82 miliar, dengan rata-rata volume perdagangan obligasi korporasi adalah Rp 25 miliar.
Menurut analis obligasi PT Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, besarnya minat asing serta peningkatan transaksi obligasi di pasar sekunder dipicu oleh fundamental ekonomi Indonesia yang memang masih sangat baik ketimbang negara-negara maju.
"Orang yakin karena fundamental baik, faktor rating story dan kemampuan untuk membayar utang juga menyebabkan peningkatan ini. Dengan BI rate
justru, harusnya permintaan (obligasi) menurun. Investor lebih memilih untuk menahan diri, sambil menunggu harga membaik," jelas Handy.
Kendati demikian, Handy menekankan bahwa sebenarnya pada saat ini tingkat yield to maturity (Yield) produk-produk SUN justru menurun dan lebih rendah ketimbang yield yang ditawarkan obligasi-obligasi korporasi.
Meski kenyataannya dana asing masuk ke SUN cukup tinggi belakangan ini, ia mengatakan pada dasarnya yield SUN tidak terlalu menarik ketimbang obligasi korporasi.
"Yield SUN saat ini cukup rendah, yield korporasi jauh lebih tinggi," ujarnya.
Oleh sebab itu, ia melihat permintaan obligasi korporasi juga akan meningkat yang berarti perusahaan-perusahaan akan berlomba-lomba menerbitkan obligasi.
(dnl/dro)










































