Demikian berdasarkan penelusuran detikFinance pada laporan keuangan triwulan I-2010 seluruh emiten Bakrie 7 dan BACA, Selasa (13/7/2010).
Berikut rincian deposito berjangka Bakrie 7 yang berdenominasi rupiah di BACA:
- PT Bakrie Brothers Tbk (BNBR) senilai Rp 3,758 triliun.
- PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) senilai Rp 3,504 triliun.
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) senilai Rp 1,136 triliun.
- PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) senilai Rp 202,280 miliar.
- PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) senilai Rp 254,301 miliar.
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai Rp 9,998 miliar (US$ 1,099 juta).
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA) senilai Rp 191,398 miliar (US$ 21,055 juta).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Total dana Bakrie 7 yang ditempatkan di BACA mencapai Rp 9,055 triliun. Namun anehnya, total nilai deposito berjangka BACA dalam laporan keuangan triwulan I-2010 hanya ada sebesar Rp 2,329 triliun.
Nilai tersebut terdiri atas deposito berjangka rupiah sebesar Rp 2,171 triliun dan deposito berjangka dolar AS senilai Rp 158,188 miliar. Berhubung seluruh deposito berjangka Bakrie 7 menggunakan denominasi rupiah, maka seharusnya nilai deposito berjangka rupiah BACA minimal sebesar Rp 9,055 triliun.
Namun yang tercatat hanya Rp 2,171 triliun. Itu berarti, ada selisih sebesar Rp 6,884 triliun yang hingga kini belum dapat dipastikan keberadaannya.
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Eddy Sugito tengah memanggil manajemen BACA dan Bakrie 7 guna meminta penjelasan soal adanya selisih tersebut. Direktur Keuangan BNBR Eddy Soeparno ketika dikonfirmasi pun mengaku tidak mengetahui detil mengenai itu.
"Mungkin itu laporan konsolidasi, saya tidak memegang laporan keuangannya saat ini," ujarnya.
Sedangkan manajemen BACA belum berhasil dikonfirmasi untuk meminta penjelasan soal ini. (dro/qom)










































