Demikian hal itu dikemukakan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) M Said Didu di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (14/7/2010).
"Garuda tidak bisa bagi dividen karena masih akumulasi rugi, neracanya masih negatif," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dilihat sekarang itu masih negatif, masih rugi," katanya.
Hingga akhir tahun 2009 lalu, Garuda sudah membukukan laba bersih sebanyak Rp 1 triliun. Pencapaian laba bersih ini meningkat jika dibandingkan laba bersih tahun 2008 yang sebsar Rp 669 miliar.
Lonjakan laba terjadi di tahun 2008, karena pada tahun 2007 laba bersih Garuda hanya sebanyak 60 miliar. Tahun-tahun sebelumnya, kinerja Garuda kurang memuaskan karena selalu menderita rugi.
Bulan lalu Garuda sudah menyelesaikan masalah kreditnya melalui rescheduling pembayaran utangnya dengan ECA yang jumlahnya mencapai US$ 241,2 juta. Dengan begitu, Garuda siap menjual hingga 40% sahamnya ke publik tahun ini.
Sebanyak 40% yang akan dilepas tersebut termasuk jatah 10% saham milik PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebagai hasil konversi utang ke saham sebesar Rp 1 triliun. Targetnya, IPO bisa dilakukan bulan September.
(ang/dnl)











































