BUMI Bidik Penurunan Utang US$ 1 Miliar

BUMI Bidik Penurunan Utang US$ 1 Miliar

- detikFinance
Selasa, 20 Jul 2010 12:31 WIB
BUMI Bidik Penurunan Utang US$ 1 Miliar
Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menargetkan dapat menurunkan posisi utangnya sebesar US$ 1 miliar dalam 12 bulan ke depan. Hingga akhir 2010, BUMI akan melunasi utang hingga US$ 700 juta.

"Hingga 12 bulan mendatang jumlah utang yang akan diturunkan ditargetkan mencapai US$ 1 miliar, sehingga rasio utang berbanding pendapatan bersih sebelum pajak dan penyusutan akan turun dari level saat ini yakni 2,3 kali ke level 1,9 kali," ujar Direktur BUMI Dileep Srivastava kepada detikFinance, Selasa (20/7/2010).

Menurut Dileep, hingga akhir tahun 2010 perseroan akan melakukan pelunasan utang sebesar US$ 700 juta. Saat ini posisi utang BUMI mencapai US$ 3,7 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, mekanisme pelunasan utang terutama akan dilakukan melalui penerbitan 1,940 miliar saham baru tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau non pre-emptive rights. Harga pelaksanaan saham baru ditetapkan sebesar Rp 2.366 per saham atau totalnya Rp 4,59 triliun (US$ 500 juta). Penerbitan saham ini akan dilakukan sebelum September 2010.

Melalui penerbitan saham baru ini, BUMI akan mengkonversi sebagian utang-utang yang jatuh tempo tahun ini. Setidaknya 4 pihak berpotensi mengkonversi saham-saham baru BUMI.

Empat kreditur tersebut adalah:
  1. Country Forest Ltd, anak usaha China Investment Corporation (CIC) berdasarkan perjanjian kredit 18 September 2009.
  2. Raiffeisen Zentralbank Osterreich AG berdasarkan perjanjian kredit 14 Desember 2009.
  3. Credit Suisse berdasarkan perjanjian kredit 29 Oktober 2009.
  4. JP Morgan Chase Bank berdasarkan perjanjian kredit 14 Desember 2009.
BUMI menghadapi utang jatuh tempo sebesar US$ 442,78 juta tahun ini. Dari utang yang jatuh tempo tersebut, dua diantaranya adalah utang jatuh tempo kepada Credit Suisse sebesar US$ 291,37 juta dan JP Morgan sebesar US$ 145,92 juta. Totalnya sebesar US$ 437,29 juta.

Sedangkan utang kepada Raiffeisen sebesar US$ 80,14 juta dan Country Forest (CIC) sebesar US$ 1,9 miliar tidak jatuh tempo tahun ini.

"Utang mana saja yang akan ditukar dan kreditornya hingga kini masih dalam pengkajian. Namun dengan mekanisme non pre-emptive ini akan memungkinkan BUMI melakukan ekspansi dan konsolidasi lebih agresif dalam setahun ke depan," ujar Dileep.

Menurutnya, program konversi utang ke saham ini akan menurunkan posisi utang BUMI sebesar US$ 500 juta serta menurunkan beban bunga per tahunnya sekitar US$ 60 juta.

"Setelah mekanisme non pre-emptive diselesaikan, BUMI memiliki opsi lain untuk mengubah profil utang, salah satunya melalui opsi pembiayaan kembali (refinancing) utang menjadi utang yang memiliki tenor lebih panjang dan biaya yang lebih rendah," lanjutnya.

Dileep juga mengatakan bahwa perseroan saat ini berada dalam kinerja yang sangat kuat dan lebih baik dari yang diharapkan. Fakta bahwa valuasi harga saham BUMI saat ini, yang berada di bawah rata-rata, menjadikan managemen BUMI untuk fokus pada penguatan fungsi-fungsi organisasi.

"Sehingga pemegang saham memiliki pemahaman yang baik terhadap dinamika bisnis perseroan, dan memastikan operasi yang baik," kata Dileep. (dro/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads