Demikian disampaikan Komisaris Berau Energy Rosan P Roslina, usai paparan publik di Hotel Mulia, Senayan Jakarta, Rabu (21/7/2010).
Ia menambahkan, dengan fasilitas pinjaman perbankan tersebut maka total utang perseroan mencapai US$ 750 juta. Ini ditambah dengan surat utang obligasi senilai Us$ 350 juta yang tengah diproses di Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, untuk surat obligasi US$ 350 juta berjangka waktu lima tahun, dengan opsi dapat dibeli kembali (buyback) setelah tiga tahun. "Total kita jadi Us$ 750 juta untuk refinancing take over yang kemarin," tambah Rosan.
Direktur Berau Coal Energy, Thomas W. Shreve menambahkan, perseroan pun kemungkinan akan menurunkan rasio prosit atas penawaran saham perdana pada Agustus 2010 mendatang, dari target semula antara Rp 2,1 triliun hingga Rp 2,8 triliun. Pasalnya, Berau telah mendapatkan dana segar US$ 750 juta.
"Ratio prosit hanya US$ 100 juta, karena ada pendanaan baru. Bonds sudah final. Kita nantinya tentukan capital structure yang paling optimum," jelas Thomas.
Jika demikian maka, perseroan hanya akan menawarkan 3 miliar saham di harga Rp 300-400 per saham, dari jumlah maksimal yang sebelumnya disebut dalam prospektus 7 miliar saham.
"Pada saat IPO prosit ditentukan Berau bersma proses bond dan loan. Target agar perusahaan tumbuh dengan optimal," tegas Executive Director Investment Banking Danatama Makmur, Vicky Ganda Saputra, selaku penjamin emisi efek (underwriter).
(wep/dro)











































