"Reserve (cadangan) di tiga sumur akan menaikkan produksi 1,8-2,8 juta ton, hingga total sampai akhir tahun mencapai 17,9 juta ton. Kita harap sumur (titik) mulai operasi triwulan-III," jelas Direktur Berau Energy, John J Ramos di Hotel Mulia, Senayan Jakarta, Rabu (21/7/2010).
Ia menjelaskan, permintaan batubara diprediksi akan meningkat seiring dengan naiknya permintaan domestik maupun luar negeri. Hingga akhir Juni 2010, penjualan rata-rata perseroan mencapai 8 juta ton dengan harga rata-rata $ 58 per ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang tahun 2010, perseroan menganggarkan belanja modal (Capital Expenditure/Capex) sekitar US$ 48 juta. Sebagian diambil dari cash flow. "Capex yang sudah komit US$ 30 juta, dari US$ 48 juta. Bisa tutup biaya debt service dan capex, tapi kita sisakan IPO prosit untuk capex," terangnya.
Hingga semester-I 2010 pun BRAU mencatat kenaikan pendapatan 27% sekitar US$ 475 juta, dari posisi yang sama tahun lalu US$ 376 juta. "Harga rata-rata tahun lalu US$ 56,7 per ton dan akhir tahun akan membaik jadi US$ 58 per ton," tegas John.
Perseroan melalui Seacoast Offshore Inc, siap mengucurkan dana US$ 206,023 juta atau Rp 1,923 triliun untuk akusisi Maple. Dimana, US$ 175 juta akan dibayar dengan menggunakan sebagian dari fasilitas pembiayaan yang dilakukan BRAU. Sisanya, US$ 25 juta menggunakan dana IPO pada Agustus 2010 mendatang.
Berau merupakan produsen dan eksportir batubara yang masuk daftar 10 besar di Indonesia. Perseroan mengoperasikan tiga pertambangan aktif di Kalimantan Timur dengan perkiraan sumber daya yang dikelola mencapai 1,4 miliar ton dengan estimasi cadangan sumber daya sebesar 346 juta ton.
Â
Â
(wep/dro)











































