"Kita akan bertemu dengan Danatama supaya lebih komprehensif," jelas Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito usai pembukaan perdagangan oleh Chairman of Asia Pacific For The Bank of New York Mellon Christopher R. Sturdy di Jakarta, Kamis (22/7/2010).
Pemanggilan ini, lanjut Eddy, bertujuan untuk memperoleh keterangan dan data yang lebih komprehensif dari pihak Danatama terkait penempatan dana aksi-aksi korporasi Bakrie 7 dan BIPI di BACA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, berdasarkan laporan keuangan BACA di periode yang sama hanya tertera Dana Pihak Ketiga (DPK) BACA sebesar Rp 2,694 triliun. Artinya, ada dana misterius sebesar Rp 7,793 triliun.
Menurut penjelasan manajemen Bakrie 7 dan BIPI, ada kesalahan pencatatan dalam laporan-laporan keuangan tidak diaudit tersebut. Bakrie 7 menyatakan hanya memiliki dana di BACA sebesar Rp 787,977 miliar per 31 Maret 2010, sedangkan BIPI menyatakan tidak memiliki dana di BACA.
Terkait adanya kisruh tersebut, BEI pun memanggil manajemen Danatama guna meinta keterangan lebih lanjut. Sebab, menurut penjelasan manajemen Bakrie 7, pemilihan penempatan dana di deposito BACA dalam aksi-aksi korporasi Bakrie 7 dilakukan atas permintaan Danatama.
Sumber detikFinance mengatakan, manajemen Danatama memang memiliki hubungan dekat dengan pemilik saham mayoritas BACA, Danny Nugroho yang sekaligus menjabat sebagai Komisaris Utama BACA.
"Dari beberapa keterangan dari emiten yang telah diberikan, memang ada hubungan terkait proses right issue. Kita hanya diskusi saja," ungkapnya.
Setelah bursa memprioritaskan kepada emiten, BEI mulai merambah ke perusahaan efek yang memfasilitasi setiap aksi emiten. Seperti diketahui seluruh rights issue anak usaha BNBR ditangani oleh Danatama selaku pembeli siaga (standby buyer).
UNSP sendiri pernah menerbitkan 9,47 miliar saham baru pada harga Rp 525 per saham dengan total nilai Rp 4,97 triliun. Menurut Direktur UNSP Harry M Nadir, penempatan dana Rp 3,504 triliun di BACA itu dilakukan oleh Danatama pada 20 Maret 2010 yang memang menunjuk bank tersebut sebagai tempat menaruh dana aksi korporasi UNSP.
Demikian juga dengan ENRG yang menggelar rights issue sebanyak 26,183 miliar saham di harga Rp 185 per saham dengan total dana yang diperoleh mencapai Rp 4,84 triliun. Kali ini Danatama dan PT Madani Securities bertindak sebagai pembeli siaga dalam aksi ini.
"Jadi dana tersebut hanya parkir sebentar di BACA karena memang pihak pembeli siaga menunjuk bank itu sebagai penempatan dana," ujar Investor Relations ENRG Herwin Hidayat.
Sedangkan Direktur Utama ELTY Hiramsyah S Thaib menjelaskan perkenalan ELTY dengan BACA terjadi ketika beberapa tahun lalu ELTY menggelar rights issue yang ditangani oleh Danatama. Namun kini, dana perseroan di BACA hanya tersisa sedikit, tidak sampai ratusan miliar.
"Dulu kita pernah rights issue dan memang dananya ditempatkan kesana (BACA) oleh Danatama," jelas Hiramsyah
Direktur Keuangan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) Jastiro Abi juga mengatakan hal senada. Abi mengaku kalau perkenalan BTEL dengan BACA terjadi melalui Danatama. Pada tahun 2008, BTEL menggelar rights issue sebanyak 8,638 miliar saham di harga Rp 350 dengan total nilai Rp 3,023 triliun. Danatama menjadi pembeli siaga aksi korporasi ini.
"Ya memang dulu ketika kita rights issue, Danatama memilih penempatan dana di BACA. Tidak ada masalah juga, kita sekarang juga masih taruh sebagian dana operasional disana," ujar Abi.
Rencananya, BEI akan menetapkan keputusan sanksi soal adanya kesalahan pencatatan ini paling lambat besok, Jumat (23/7/2010).
(wep/dro)











































