Menurut Corporate Secretary PTBA, Achmad Sudarto volume penjualan batubara perseroan hingga akhir Juni 2010, meningkat 10% dari 5,84 juta ton menjadi 6,44 juta ton. Namun ini tidak diikuti oleh harga rata-rata tertimbang yang turun 20% menjadi Rp 601.106 per ton, dari harga sebelumnya Rp 751.623 per ton.
Dengan mengacu pada harga rata-rata dan volume penjualan, maka total pendapatan perseroan menurun 16% menjadi Rp 3,794 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 4,501 triliun. Pasar domestik memberikan kontribusi terbesar sekitar 66% dari total penjualan. Sisanya 34% untuk pasar ekspor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi biaya, apabila tidak memperhitungkan selisih persediaan batubara (inventory), maka Harga Pokok Penjualan (HPP) mengalami kenaikan 6,7%. Apabila selisih persediaan batabara diperhitungkan, maka HPP naik 16% menjadi Rp 2,125 triliun.
"Kenaikan tarif angkutan kereta api dan kenaikan biaya pembelian batubara dari pihak ketiga mendorong kenaikan HPP," tambahnya.
Meningkatnya HPP, menyebabkan laba kotor PTBA hingga semester I-2010 turun 38% menjadi Rp 1,669 triliun dibanding posisi tahun lalu. Laba usaha pun merosot hingga 50% dari Rp 2,085 triliun menjadi Rp 1,046 triliun.
Dengan demikian maka laba bersih perseroan ikut menurun 43% menjadi Rp 908,11 miliar dari Rp 1,592 triliun pada semester I-2009.
Pada tahun ini, perusahaan tambang pelat merah itu menargetkan penjualan di atas 14,5 juta ton naik dari posisi tahun lalu, 12,5 juta ton. Peningkatan volume ini diharapkan dari peningkatan volume angkutan kereta api tahun 2010 diperkirakan menjadi 11 juta ton, dari sebelumnya 10,5 juta ton.
"Tambahan produksi dari anak usaha tambang IPC di Kalimantan yang mulai produksi triwulan IV-2009 merupakan faktor pendukung naiknya target volume penjualan tersebut," ucapnya.
(wep/dnl)











































