Demikian disampaikan Presiden & CEO GMF AeroAsia Richard Budihadianto saat ditemui detikFinance di Hotel Kempinsky, Jalan MH Thamrin Jakarta, Selasa (27/7/2010).
Ia menambahkan, sejatinya GMF AeroAsia telah merencanakan untuk IPO terlebih dahulu dibandingkan Garuda Indonesia. Namun atas pertimbangan dari shareholder maka induk usaha tersebut didahulukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direncanakan, pencatatan saham perdana GMF AeroAsia bakal terlaksana pada 2013. Ini terjadi usai perseroan menambah satu hanggar guna meningkatkan kapasitas bengkel mereka.
"Kita butuh satu hanggar lagi. Dan ini baru bisa teralisir pada akhir 2012, karena pembangunan sendiri butuh 18 bulan. Minimal satu tahun setelah itu, 2013 baru bisa IPO," katanya.
Dengan tambahan satu hanggar, perseroan percaya bisnis perawatan armada pesawat akan lebih berkembang. Lima tahun ke depan, lanjutnya, industri penerbangan akan lebih maju, dengan semakin maraknya maskapai dan beragamnya rute perjalanan.
"Kalau prospek bagus (penerbangan), kan butuh bengkel," tegasnya.
Mundurnya rencana IPO perseroan juga terkendala aturan Bapepam-LK. Aturan tersebut mengharuskan jika ada induk dan anak usaha (perusahaan terafiliasi) yang ingin melakukan IPO, maka pendapatan anak usaha maksimal hanya 50% dikontribusikan dari perusahaan induk.
"Saat ini kan revenue kita 65% masih dari Garuda. Kita kejar dibawah 50%, dengan konsumen yang tidak hanya mengandalahkan Garuda. Tambahan satu hanggar, maka kami yakin bisa tekan sampai 50%," imbuhnya.
(wep/ang)











































