Menurut Direktur Keuangan Pertamina, M. Afdhal Bahaudin, hingga kini hasil audit terhadap laporan keuangan tahun 2009 yang dilakukan oleh lembaga audit Ernst&Young dan kantor akuntan publik PSS Purwanto masih belum selesai.
Padahal, salah satu syarat penerbitan obligasi adalah laporan keuangan dua tahun terakhir harus selesai diaudit. Pertamina sendiri sudah menyelesaikan audit untuk laporan keuangan 2008, tinggal menunggu laporan keuangan tahun lalu selesai diperiksa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Afdal berharap penerbitan obligasi bisa tetap terlaksana pada tahun ini juga. Rencananya dana hasil oblihasi akan digunakan untuk kegiatan investasi pengembangan sektor upstream, downstream, sampai midstream.
"Karena due diligence, legal dan sebagainya kita sudah siapkan," ungkapnya.
Semula, BUMN migas itu menargetkan penerbitan surat utang itu bisa dilakukan sekitar bulan April-Mei 2010 lalu. Manajemen perusahaan pelat merah itu kemudian sepakat untuk memundurkan jadwal penerbitannya karena masih menunggu hasil audit laporan keuangan tahun 2009.
Tahun ini, perseroan menganggarkan capex sebanyak Rp 39 triliun. Dana itu naik sebesar 56,4 persen dari capex tahun sebelumnya yang hanya sebanyak Rp 22 triliun.
Dalam aksi korporasi itu, Pertamina telah menunjuk tiga perusahaan sekuritas untuk menjadi penjamin emisi alias underwriter. Ketiganya yaitu Citigroup, HSBC, dan Credit Suisse.
(epi/dnl)











































