"IPO kelihatannya belum bisa tahun ini karena susah sekali prosesnya. Sekarang sedang kami kaji semuanya," ujar Direktur Keuangan PHE Hemzairil Alwi di Gedung Kwarnas, Jakarta, Selasa (3/8/2010).
Apalagi, sebelum IPO dilakukan perseroan juga harus merestrukturisasi aset miliknya karena masih ada aset yang masih menjadi milik induk usaha mereka yaitu PT Pertamina (Persero).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ia memperkirakan idealnya jumlah saham yang dilepas perseroan sekitar 10 persen. Angka ini lebih rendah dari rencana induk usaha mereka yang memasang target 20 persen.
"10 persen saja sebenarnya cukup untuk IPO. Kan kita lihat dulu bagaimana reaksi pasarnya. Sepuluh persen itu ancar-ancarnya, tapi semua tergantung pemegang saham." jelasnya.
Hemzairil berharap rencana IPO ini akan bisa terealisasi pada tahun 2011. "Kalau tidak ada aral melintang, diharapkan tahun depan ," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, PT Pertamina (Persero) akan melepas 20 persen saham perdana PHE ke pasar. Perusahaan migas pelat merah itu membidik dana segar Rp 10 triliun dari aksi korporasi tersebut.
Rencananya dana hasil IPO itu akan digunakan untuk mengakuisi lapangan-lapangan migas baik di dalam dan luar negeri.
Hemrizal menambahkan, pada tahun ini PHE menganggarkan belanja modal (Capital Expenditure/Capex) sebesar US$ 400 juta dan belanja operasi US$ 400 juta.
"Kami akolasikan US$ 90 juta untuk pengembangan blok SK 305 dan sekitar Blok 10 dan Blok 11.1 yang ada di Vietnam sebesar US$ 15 juta," tambahnya.
(epi/dnl)











































