"Rencananya tahun ini, koreksi jadi tahun depan. Kita mau membeli beberapa mesin untuk meningkatkan produksi," ungkap Direktur Utama Peruri Juniho Jahja saat ditemui dalam BUMN Award di Hotel Kempinski, Jalan MH Thamrin, Jakarta Jumat (6/8/2010) malam.
Namun sayang, nominal surat utang tersebut belum bisa disebutkan Juniho karena masih dalam tahap pembahasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kita beli satu set. Udah gitu, kita bisa bayar 3 tahun setelah barang datang. Kita cetak pendapatan dulu, baru bayar. Mereka harus buktikan dong," kata Juniho.
Ia menjelaskan, Peruri pun sedang menunggu dua mesin intaglio (fungsi peraba) asal Eropa. Rencananya mesin mulai datang di semester II ini.
"Biayanya satu mesin Rp 350 miliar," ucapnya.
Sementara itu, saat ditanyakan rencana Peruri dalam pembelian PT Kertas Padalarang, Juniho menegaskan, proses sudah dalam tahap final. Investasi yang harus dibayar BUMN pencetak uang ini pun hanya Rp 38 miliar.
"Itu kan hanya pengalihan, BUMN juga. Tapi di (Kertas) Padalarang tidak hanya pemerintah. Ada yang lain, nah itu yang dibayarkan," paparnya.
Sebelumnya, Komite Privatisasi telah merestui pelepasan saham minoritas milik pemerintah di BUMN tersebut. Menurut Sekretaris Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) M Said Didu, Peruri tertarik untuk memiliki sebagian saham di perusahaan kertas tersebut untuk memenuhi kebutuhan kertas dalam kegiatan operasionalnya.
(wep/dnl)











































