Analis dari BNI, Muhammad Fikri mengatakan, sesuai dengan prediksi, pelemahan IHSG tersebut didorong oleh aksi profit taking yang dilakukan oleh investor mengingat bursa saham Indonesia sudah mengalami area jenuh beli.
Bila dibandingkan dengan kenaikan yang terjadi pada bursa saham Singapura, Jepang, China dan Hongkong, kenaikan bursa saham Indonesia memang sangat signifikan, sehingga wajar apabila IHSG terkoreksi cukup dalam walaupun tidak ada sentimen negatif yang muncul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebanyak 443 dari 500 perusahaan yang terdaftar di S&P500 telah merilis laporan keuangannya, dimanaΒ 75% dari perusahaan tersebut membukukan pendapatan diatas ekspektasi para analis.
"Kuatnya sentimen dari sektorΒ riil tersebut mampu mengabaikan sentimen negatif dari kondisi makro amerika yang justru mengalami penurunan," jelas Fikri dalam reviewnya yang dikutip detikFinance, Senin (8/8/2010).
Ia menambahkan, setelah menguat pada hari-hari sebelumnya indeks Dow Jones melemah sebesar 0,2% pada perdagangan hari jumat pekan lalu sebagai dampak dari menurunnya angka ketenagakerjaan AS. seperti diberitakan, pada jumat pekan laluΒ pemerintah Amerika mengumumkan bahwa ekonomi Amerika kehilangan 131.000 pekerjaan pada bulan juli, angka tersebutΒ jauh dari prediksi analis di angka 65.000. Departemen ketenaga kerjaan Amerika menjelaskan bahwa melambatnyaΒ pertumbuhan pekerjaan di Amerika didorong oleh lemahnya pertumbuhan pekerjaan di sektor swasta.
"Terus munculnya sentimen negatif mengenai kondisi makro ekonomi amerika dan akan berakhirnya sentimen laporan keuangan emiten diprediksi akan mendorong investor di bursa amerika untuk melakukan profit taking lebih cepat," urai Fikri.
Β
Walau demikian, lanjut dia, sentimen tersebut tidak akan berimbas signifikan terhadap bursa saham Indonesia minggu iniΒ mengingat IHSG secara tekhnikal telah mengalami koreksi yang cukup dalam minggu lalu.
"Dari dalam negeri, bursa saham Indonesia minggu depan akan memasuki masa ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya,Β pada masa ramadhan transaksi yang terjadi di bursa saham Indonesia cenderung tipis baik itu secara volume maupun value," ungkapnyua.
Kondisi tersebut terjadi karena banyak investor yang akan cenderung keluar dari bursa untuk memenuhi keperluan finansialnya selama ramadhan dan mengurangi aktivitasnya di bursa saham.
Walau demikian, Fikri meyakini kondisi tersebut tidak berarti IHSG akan jatuh, mengingat sejarahnya IHSG justru selalu memberikan gain yang signifikanΒ selama bulan ramadhan disamping itu IHSG minggu lalu juga telah mengalami koreksi yang cukup dalam.
"Oleh karena itu IHSG mingguΒ ini diprediksi akan bergerak sideways dengan kecenderungan menguat, penguatan IHSG tersebut akan didorong oleh pembelian selektif khususnya terhadap perusahaan-perusahaan dengan kinerja positif berdasarkan laporan keuangan yang telah dirilis pada kuarter kedua 2010," urainya.
(qom/qom)











































