"Kita tidak terlalu khawatir karena pangsa pasar kita beda. Kita lebih konsentrasi ke pasar makanan yang mencapai 80%," kata Direktur Utama NIKL Ardhiman usai paparan publik di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD Jakarta, Senin (9/8/2010).
Ia mengatakan, total konsumsi pelat timah dalam negeri sepanjang semester I-2010 sebanyak 114 ribu ton. Dari jumlah tersebut, pelat timah domestik sebanyak 58 ribu ton, sedangkan sisanya sebanyak 56 ribu ton impor dari luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengacu pada angka tersebut, berarti impor pelat timah asal China mencapai 22.400 ton di semester I-2010. Itu berarti, pelat timah asal China menguasai sekitar 19,65% pasar pelat timah domestik.
Hingga paruh pertama tahun 2010, produksi pelat timah NIKL mencapai 58 ribu ton. Perseroan pun menargetkan dapat memproduksi pelat timah sebanyak 120 ribu ton hingga akhir tahun 2010. Dengan potensi permintaan yang meningkat, perseroan yakin hal ini akan tercapai.
"Rata-rata kan kami produksi 10 ribu ton per bulan. Sedangkan untuk September kami perkirakan ada penurunan, karena aktivitas bisnis klien kami yang sedikit melambat selama musim lebaran," paparnya.
Sementara itu, proyek peningkatan kapasitas produksi mulai berjalan di tahun ini. Hingga akhir tahun, belanja modal yang dipersiapkan mencapai Rp 47 miliar atau 30% dari total dana Initial Public Offering (IPO) Rp 157 miliar.
"Capex kami sekitar 30% dari dana IPO," tambah Ardhiman.
Mulai Agustus hingga dua bulan berjalan, proses engineering design akan dikerjakan oleh Nippon Steel Engineering. Selanjutnya proses manufacturing yang memakan waktu 6-8 bulan sejak desain selesai.
"Tahun 2011 kita rencana commissioning dan pemasangan mesin baru," tegas Direktur Komersial NIKL, Suprapto.
Â
Â
(dro/dnl)











































