Demikian disampaikan dalam siaran pers perseroan, Senin (16/8/2010).
"Saat ini pit utama yang memproduksi batubara masih tergenang air, tetapi ketinggian air telah berkurang sehingga memungkinkan WBM melakukan kegiatan penggalian pada bagian Timur dan Barat," ujar Direktur Utama BYAN, Eddie Chin Wai Fong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tambang WBM berhenti beroperasi sejak 22 Juli 2010 akibat curah hujan yang tinggi dan menyebabkan air tergenang dan mengganggu produksi. Tambang ini menghasilkan 2,9 juta ton batubara di tahun 2009.
WBM merupakan anak usaha BYAN yang berdiri pada tahun 1994. WBM mempunyai PKP2B generasi III dan hak menambang di Kalimantan Selatan.
Tambang ini memiliki total wilayah konsesi 7.811 hektar. Sejak 31 Maret 2008, proyek Wahana memiliki total cadangan open cut batubara bituminus terbukti dan terkira, 75,8 juta ton. Nilai kalori rata-rata 6.480 kcal per kg dan rasio rata-rata pengupasan tanah 15.0:1.
Peristiwa ini tidak menyebabkan harga saham perseroan jatuh. Pada penutupan 22 Juli 2010, harga BYAN berada di level Rp 7.400 per saham. Pada penutupan hari ini, harga BYAN berada di level Rp 8.400, atau terjadi kenaikan sebesar Rp 1.000 (13,51%) selama keadaan kahar tersebut.
Â
Â
(dro/qom)











































