Menurut Direktur Utama Semen Gresik Dwi Soetjipto, hingga saat ini penggunaan bahan bakar alternatif perseroan sudah mencapai 5% dari total bahan bakar perseroan. Ditargetkan hingga tahun 2012 penggunaan bahan bakar alternatif perseroan bisa mencapai 7,5%.
"Sampai saat ini proyek WRHG di Semen Padang telah mencapai 45%, diharapkan pada akhir tahun 2011 proyek tersebut bisa rampung dan memproduksi listrik sebanyak 8,4 MW," katanya di Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (18/8/2010) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini menjadi bahan pemikiran kita ketika TDL naik terus. Sebaiknya perusahaan memiliki pembangkit listrik sendiri," katanya.
Menurut Dwi, pembangkit tersebut berkapsitas 8,4 MW, namun jika cuaca panas di musim yang kering maka kapasitas pembangkitnya bisa tersebut bisa hingga 10 MW.
Efisiensi lain yang telah dilakukan perusahaan pelat merah itu melalui energi alternatif adalah menggunakan sekam padi dan kulit mente di pabrik Semen Tonasa. Hingga semester I-2010, bahan bakar alternatif itu mencapai 2% dari total kebutuhan konsumsi bahan bakar.
Selain itu, perseroan juga menggunakan bahan bakar sekam padi, tabacco waste dan oil sludge di pabrik semen di Gresik. Hingga paruh pertama tahun 2010, bahan bakar alternatif itu mencapai 1,5% dari total kebutuhan konsumsi bahan bakar.
Pembangunan pembangkit listrik independen ini bukan pertama kali yang dilakukan oleh emiten berkode SMGR itu. Sebelumnya, perseroan juga sudah membangun pembangkit listrik berkapasitas 2x35 MW untuk memasok kebutuhan listrik pabrik perseroan.
Menurut Dwi, sampai saat ini pembangunan pembangkit tersebut perkembangannya baru berjalan sekitar 5% saja. Pembangkit listrik tersebut berada di dekat pabrik perseroan di daerah Tonasa.
"Proyek pembangkit listrik ini akan mampu menjamin pasokan energi listrik untuk Pabrik Semen Tonasa sekaligus memberikan efisiensi biaya energi listrik," ujarnya.
(ang/qom)











































