Menurut Direktur Utama Danareksa Edgar Ekaputra, guna memenuhi investasi Rp 300 miliar tersebut perseroan mencoba menggalangnya dari BUMN lain, juga perusahaan swasta.
"Dananya kita akan coba kumpulkan. Baik dari BUMN atau swasta. Kalau swasta, jika bagus kita arahkan untuk masuk," ucap Edgar saat ditemui di Restoran Penang Bistro, Jalan Kebuh Sirih, Jakarta, Jumat (20/8/2010) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perseroan berencana melakukan reboisasi dalam rangka investasi di bidang kehutanan. Reboisasi akan bekerja sama dengan Inhutani. Untuk energi minihydro, hasilnya digunakan sebagai penyedia listrik ke PT PLN (Persero), meskipun hanya menghasilkan 4-6 mega watt (MW).
Karena Danareksa Capital merupakan investasi jangka panjang, maka dari itu perseroan sedang mencari bentuk pendanaan yang sesuai. Khusus untuk BUMN, lanjut Edgar, perseoan asuransi dan Dana Pensiun (Dapen) siap masuk untuk berinvestasi.
"Biasaya yang butuh investasi jangka panjang mereka, asuransi dan Dapen. Biasanya cari investment yang match. Policy investment dari lembaga itu lain-lain. Itu yang sulit untuk dicari," paparnya.
Pola kerjasama investasi dengan pihak ketiga ini, tegas Edgar, membutuhkan waktu tiga tahun. "Tidak akan bisa cepat untuk kerjasama ini," paparnya.
Menteri BUMN, Mustafa Abubakar sebelumnya menjelaskan pemerintah berencana membentuk Danareksa Capital yang merupakan bagian dari unit kerja Danareksa yang bertugas mengelola saham-saham minoritas pemerintah. Rencananya pembentukan Danareksa Capital ini paling lambat terbentuk akhir tahun ini.
Mustafa menjelaskan, nantinya dibawah PT Danareksa akan dibentuk satu unit yang bertugas sebagai fund manager, yang mencakup pengelolaan saham-saham minoritas pemerintah yang mencakup sebanyak 9 perusahaan. Unit kerja ini bertugas sebagai pencatat pembukuan saham-saham tersebut menjadi satu pembukuan.
Beberapa saham minoritas pemerintah dibeberapa perusahaan antara lain PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung, PT Surabaya Industrial Estate Rungkut, PT Kertas Padalarang, PT Asuransi Kredit Indonesia, PT Inalum, PT Bank Bukopin, PT Indosat, PT Socfindo, dan PT Freeport Indonesia.
(wep/dnl)











































