Demikian berdasarkan data hasil investigasi sementara yang diperoleh detikFinance dari salah seorang staf perseroan yang enggan disebutkan namanya, Minggu (23/8/2010).
Data investigasi sementara itu menyebutkan bahwa realisasi penggunaan dana IPO RINA yang sebenarnya hanya sekitar Rp 4,629 miliar, jauh lebih rendah dari realisasi yang dilaporkan manajemen RINA kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) per 20 Agustus 2010 sebesar Rp 30,423 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
RINA mencatatkan 210 juta saham baru ke BEI melalui proses IPO pada 14 Juli 2009. Harga per sahamnya Rp 160 per saham atau totalnya senilai Rp 33,600 miliar.
Biaya emisi IPO dianggarkan sebesar 7,85% atau sebesar Rp 2,637 miliar. Itu berarti dana IPO yang diperoleh perseroan setelah dikurangi biaya IPO sebesar Rp 30,962 miliar.
Rincian penggunaan dana IPO menurut prospektus perseroan adalah sebagai berikut:
- Pembelian peralatan dan alat kerja sebesar 36,04% atau Rp 11,158 miliar.
- Modal kerja sebesar Rp 18,160 miliar 54,05% atau Rp 16,734 miliar.
- Pembukaan kantor-kantor cabang baru 9,91% atau Rp 3,068 miliar.
Untuk pembelian peralatan dan alat kerja, rincian realisasi versi direksi RINA sebagai berikut:
- DT/Analze/Optimizing Testing Equipment & Software 28 unit Rp 5,716 miliar.
- Installation Tool Site Master 30 unit Rp 3,825 miliar.
- Installation Tool BER Test 30 unit Rp 397,264 juta.
- Installation Tool TEMS 16 unit Rp 812,969 juta.
- Site Audit ToolΒ 49 unit Rp 220,702 juta.
- Digital Camera, Telescope, Power Meter 19 unit Rp 27,769 juta.
- Safety Equipment Body Harness 30 unit Rp 154,491 juta.
Untuk modal kerja, rinciannya realisasi versi RINA sebagai berikut:
- Pembelian alat pendukung pekerjaan Rp 2,510 miliar.
- Biaya pemasaran Rp 1,674 miliar.
- Pengadaan kendaraan operasional Rp 3,347 miliar.
- Pelatihan dan pengembangan human resources Rp 1,674 miliar.
- Pengikatan freelance menjadi karyawan kontrak Rp 3,347 miliar.
- Mobilisasi dan demobilisasi antar cabang Rp 837 juta.
- Pengembangan usaha lainnya Rp 3,347 miliar.
Untuk pembukaan kantor cabang, rincian versi manajemen RINA sebagai berikut:
- Surabaya Rp 999,713 juta.
- Batam Rp 438,731 juta.
- Pekanbaru Rp 603,316 juta.
- Padang Rp 456,238 juta.
Namun data yang diperoleh detikFinance menyebutkan, untuk pembelian peralatan dan alat kerja hanya direalisasikan pada pos Safety Equipment Body Harness sebesar Rp 154,491 juta.
Sedangkan untuk modal kerja, data mengatakan kalau realisasi riil hanya dilakukan sebagai berikut:
- Pembelian alat pendukung pekerjaan sebesar Rp 200 juta (bukan Rp 2,51 miliar dalam versi manajemen).
- Pelatihan dan pengembangan huma resources Rp 800 jutaan.
- Mobilisasi dan demobilisasi antar cabang Rp 838,065 juta (sesuai versi manajemen).
Kemudian untuk pembukaan kantor cabang dikatakan tidak direalisasikan sama sekali. Sumber juga menjelaskan kalau sejak sebelum IPO hingga saat ini, kantor cabang RINA masih berjumlah 3 unit yang berlokasi di Jakarta, Medan dan Palembang.
"Jadi tidak benar kalau dikatakan ada pembukaan kantor cabang. Apalagi pembelian kendaraan yang dilaporkan manajemen sebesar Rp 3,347 miliar, itu tidak ada. Malah yang ada perusahaan menjual mobil operasional untuk mendanai kegiatan operasional. Kas perusahaan sudah kosong sama sekali," ujar sumber itu.
Jika ditotal, realisasi penggunaan dana IPO versi data investigasi sementara hanya sebesar Rp 1,992 miliar. Ditambah biaya emisi IPO sebesar Rp 2,637 miliar yang diyakini sumber betul dikucurkan, maka realisasi penggunaan IPO hasil investigasi sementara staf RINA hanya sebesar Rp 4,629 miliar.
Dengan perolehan dana IPO sebesar Rp 33,600 miliar, maka dana yang tidak jelas penggunaannya mencapai Rp 28,971 miliar.
"Kalau dilihat, ada keanehan pada laporan penggunaan dana versi manajemen. Pada pos alokasi modal kerja, ada 3 kali tertulis angka Rp 3,347 miliar untuk pos pengadaan kendaraan, pengikatan freelance jadi karyawan kontrak dan biaya pengembangan usaha. Selain itu ada 2 kali tertulis angka Rp 1,674 miliar pada pos biaya pemasaran dan pelatihan human resources. Ini aneh, kelihatan sekali kalau ada yang dibuat-buat," ujar sumber.
Selain itu, sumber juga menemukan bukti adanya transaksi akuisisi PT Misi Niaga sebesar Rp 2 miliar, pembayaran utang kepada PT Orix Indonesia Finance senilai Rp 600 juta dan pembayaran utang kepada Komisaris RINA Budi Japadermawan senilai Rp 1,9 miliar. Total 3 transaksi ini senilai Rp 4,5 miliar.
"Sangat patut diduga kalau pendanaan akuisisi dan pembayaran utang-utang ini menggunakan dana hasil IPO yang mana tidak dicantumkan dalam rencana penggunaan dana," ujar sumber.
Ketika dikonfirmasi, Direktur Keuangan RINA Izzudin Mahmood membantah adanya penyelewengan dana tersebut. "Tidak ada itu penyelewengan. Kita sekarang sedang dalam proses memberi penjelasan kepada BEI," ujarnya.
Β
(dro/dro)











































