Indocement Siap Pasok Kebutuhan Semen Nasional 13 Juta Ton

Indocement Siap Pasok Kebutuhan Semen Nasional 13 Juta Ton

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Rabu, 25 Agu 2010 10:24 WIB
Jakarta - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) siap memasok 13 juta ton semen untuk kebutuhan nasional di tahun 2010. Angka ini meningkat 10% dibandingkan tahun lalu, yakni 11,8 juta ton.

Sementara untuk pangsa pasar ekspor, menurut Direktur Keuangan Indocement Christian Kartawijaya, jumlahnya masih minoritas dikisaran 1 juta ton, dari total kapasitas produksi perseroan yang mencapai 18,2 juta ton.

Naiknya permintaan semen dalam negeri tidak lepas dari membaiknya ekonomi, yang berdampak pada sektor residensial yang tumbuh. Juga di sektor infrastruktur, dengan berjalannya proyek-proyek pembangunan berskala besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Industri semen sebenarnya masih 80% dari residensial, karena Indonesia masih cenderung kalau ekonomi tumbuh, orang ingin memperbaiki rumahnya. Infrastruktur juga meningkat di 2010. Untuk itu domestik dapat tumbuh sekitar 10%," kata Christian di kantornya, Wisma Indocement, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (24/8/2010) malam.

Perseroan juga siap mengoperasikan dua pabrik penggilingan semen (cement mil) dengan kapasitas tambahan 1,5 juta ton per tahun, pada bulan September 2010. Dengan beroperasinya pabrik yang berlokasi di Cirebon ini, maka total kapasitas produksi perseroan mencapai 18,6 juta ton.

Biaya investasi untuk pabrik cement mill di Cirebon, lanjut Christian, mencapai US$ 35 juta.

Dengan penambahan kapasitas ini pula maka INTP berharap dapat menjaga menjaga pangsa pasarΒ  semen dalam negeri di kisaran 31% hingga akhir 2010, atau sama dengan raihan pada bulan Juli ini.

"Market share kita sampai saat ini 31,3%. Kita akan jaga semoga sama sampai akhir tahun, itu udah bagus. Jika dibanding Juli 2009, ada peningkatan. Waktu itu sekitar 30,3%," ujar Christian.

Meningkatnya pangsa pasar (market share) ini, tidak lepas dari rencana bisnis perseroan yang berjalan di 2010, seperti pengoperasian dua pabrik cement mill yang dapat mendongkrak produksi INTP.

"Permintaan semen domestik (industri) pada 2010 mencapai 41,5 juta ton, naik dari tahun lalu yang hanya 38,4 juta ton. Untuk itu kita sudah siap-siap dengan peningkatan kapasitas," ungkapnya.

Perseroan juga memprediksi hingga akhir tahun penjualannya dapat tumbuh 7-8%. Pertumbuhan jauh di bawah pertumbuhan permintaan semen nasional yang hingga Juli mencapai 10,7%.

"Turun karena semester II memang trennya seperti itu. Apalagi ada Lebaran dan Indul Fitri," ucapnya.

Sementara itu, pembangunan dua pabrik cement mill lain di Citereup rencananya akan dimulai pada akhir 2011 atau awal tahun 2012. Investasi yang disiapkan perseroan mencapai US$ 70 juta dan diambil dana kas internal.

Rencananya kapasitas kedua pabrik mencapai 2 juta ton per tahun, hingga jika berproduksi maka total kapasitas perseroan hingga 20,6 juta ton.

Pada kesempatan yang sama, ia menambahkan, Keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menolak adanya tuduhan kartel perdagangan semen membuat pelaku usaha di industri semen tenang. Keputusan ini juga semakin memberi kepastian hukum di Indonesia.

"Jadi bukti tidak ada kartel di 8 pabrik. Dan keputusan KPPU memberi kepastian hukum," ungkapnya.

Sebelumnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memutuskan tak ada kartel terhadap delapan produsen semen di dalam negeri. Sebanyak 8 produsen semen bebas dari tuduhan monopoli dan praktek usaha tidak sehat.

Mereka adalah Indocement,PT Holcim Indonesia (Tbk), PT Semen Baturaja, PT Semen Gresik, PT Lafarge Cement Indonesia, PT Semen Tonasa, PT Semen Padang dan PT Semen Bosowa Maros. Kedelapan produsen semen ini, tak terbukti melanggar pasal 5 dan 11 UU No 5 Tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tak sehat, yang selama ini dituduhkan.

Christian menambahkan, dari awal dirinya yakin bahwa memang tidak ada kartel perdagangan di industri semen dalam negeri. Sebagai parameter sederhana, produk kedelapan produsen semen nasional terdapat di Jakarta. Hingga masyarakat, dapat memilih produk mana yang mereka gunakan.

Lagi pula, tidak mungkin jika ada kartel, produsen yang berproduksi di pulau Jawa, mensupplai semen ke pulau Sumatera, yang telah memiliki Semen Padang, atau ke pulau Sulawesi, yang punya Semen Bosowa Maros.

"Mereka ngapain capek-capek kirim semen jauh, kalau memang kartel. Ini kan memang murni persaingan di market. Jadi tidak ada kartel," tegas Christian.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads