10 BUMN Siap IPO Tahun 2011

10 BUMN Siap IPO Tahun 2011

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Jumat, 27 Agu 2010 16:32 WIB
Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO) BUMN di tahun 2011 paling cepat akan dilakukan pertengahan tahun atau sekitar bulan Juli. Pemerintah sudah siapkan 10 BUMN untuk masuk bursa tahun depan.

Menurut Menteri BUMN Mustafa Abuabakar, saat ini pemerintah masih akan fokus kepada privatisasi 4 BUMN, yaitu IPO PT Krakatau steel dan PT Garuda Indonesia serta rights issue BNI dan Bank Mandiri.

"Tahun ini kita tuntaskan 4 itu dulu. Kita memang ada urgensi untuk menambah emiten BUMN di bursa. Paling cepat IPO lagi di pertengahan 2011," ujarnya di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (27/8/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun sayangnya, Mustafa enggan menyebutkan identitas dari 10 BUMN yang akan melantai di bursa tersebut. Ia hanya mengatakan, sektor industri dari BUMN tersebut yaitu asuransi, perkebunan, jasa pembiayaan, dan konstruksi.

Sebelumnya, pemerintah menargetkan hanya akan menjual saham 7 BUMN saja di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun Mustafa akan mendorong angka ini hingga mencapai 10 perusahaan pelat merah.

Ia mengatakan, hingga saat ini BUMN yang akan diprivatisasi itu belum memberikan laporan. Paling lambat, laporan ini akan masuk ke Kementerian BUMN bulan Oktober.

Setelah laporan tersebut masuk, maka baik Kementerian dan BUMN itu sendiri akan mulai melakukan semua persiapan sepanjang semester pertama tahun 2011. Jadi, paling cepat IPO berikutnya baru bisa dilakukan di pertengahan 2011.

"Permintaan di bursa saham kita semakin tinggi, kalau tidak ditambah jumlah emitennya bisa terjadi bubble," ujarnya.

Menurut Mustafa, banyak keuntungan yang didapat oleh BUMN dengan menjadi perusahaan publik masuk melalui pasar modal. Salah satu keuntungannya adalah memperkuat modal dan menyehatkan manajemen BUMN yang bersangkutan.

"Juga lebih transaparan karena dimiliki oleh publik, bisa diawasi dengan lebih baik," katanya.

(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads