Demikian disampaikan dalam laporan keuangan perseroan, Selasa (31/8/2010).
Pendapatan usaha perseroan mencapai Rp 11,985 triliun atau turun 7,07% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Rp 12,897 triliun. Pada saat yang sama, volume penjualan ADRO mencatat pertumbuhan 22% atau setara dengan 21,75 juta ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laba usaha juga ikutan turun 27,6% dari Rp 4,931 triliun pada periode Januari-Juni 2009 menjadi Rp 3,570 triliun. Dengan demikian laba bersih perseroan mencapai Rp 1,153 triliun, turun sebesar 48,73%Â dari posisi yang sama tahun lalu, Rp 2,249 triliun.
Jika mengacu pada dollar AS, sebagai mata uang dalam aktifitas bisnis, termasuk utang dan penjualan, maka sejatinya laba bersih Adaro hanya turun 38% dari US$ 203 juta menjadi US$ 125 juta. Ini dengan acuan kurs rata-rata Rp 9.189 per dollar AS.
"Penurunan di semester I tahun 2010 telah diperkirakan. Walaupun produksi dan penjualan meningkat dibandingkan semester I-2009, tingkat curah hujan yang tinggi di semester I-2010 (dan terus berlanjut), telah berdampak terhadap pendapatan usaha dan laba bersih.," ujar Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir di Jakarta, Selasa (31/8/2010).
Â
Â
(wep/dro)











































