Demikian disampaikan Corporate Secretary WIKA Natal Argawan di Pasific Place, SCBD, Jakarta, Selasa (31/8/2010).
"Obligasi masih dibicarakan. Tapi nantinya ini akan digunakan untuk membiayai proyek jangka panjang kita. Sampai saat ini kita belum dapatkan seperti yang di Bali," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyek ini merupakan milik PLN bersama Indonesia Power (IP) yang bertujuan untuk memenuhi energi daerah-daerah terpencil (blind spot).
"Kalau ini dilakukan secara bersamaan kan butuh banyak biaya. Untuk itu dimungkinkan dari pendanaan eksternal. Jadi obligasi disesuaikan dengan kebutuhan pendanaan," paparnya.
Per Agustus 2010, BUMN Karya ini mencatat nilai kontrak baru sebesar Rp 4,79 triliun. Di mana nilai kontrak tersebut sudah termasuk penambahan nilai kontrak proyek CGA Tayan. Dan hingga akhir tahun diharapkan nilai kontrak baru mencapai Rp 10 triliun dengan pendapatan yang bisa diperoleh Rp 8 triliun.
"Sehingga total nilai order book (kontrak dihadapi) sampai Agustus 2010 mencapai Rp 15,5 triliun atau 74,52% dari target tahun ini sebesar Rp 20,8 triliun," kata Natal.
Perseroan memang telah bekerjasama Tsukishima Kikai Co. Ltd. dan PT Nusantara Energi Abadi (Nusea) sebagai kontraktor EPC proyek CGA Tayan. Mereka bersepakat dengan PT Indonesia Chemical Alumina (PT ICA).
PT ICA merupakan perusahaan patungan Antam dengan Showa Denko K.K. (SDK) dari Jepang. Antam memiliki 80% saham PT ICA sementara sisa 20% saham dimiliki oleh SDK. Proyek CGA Tayan, yang berlokasi di Tayan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, akan meningkatkan nilai pada cadangan bauksit Antam yang berjumlah besar.
Proyek CGA Tayan akan memproduksi 300.000 ton CGA per tahun. Output produksi sebesar 200.000 ton CGA akan digunakan SDK sebagai pengganti output CGA dari pabrik miliknya di Yokohama. Sementara 100.000 ton CGA akan dijual di pasar Indonesia.
(wep/dnl)











































