Menurut Direktur Keuangan Djaja M Tambunan, penjajakan pendanaan eksternal nantinya akan dikombinasikan dengan anggaran belanja modal ANTM di tahun 2011, sebesar lebih dari Rp 2,3 triliun. Pinjaman ini juga besar kemungkinan untuk didapat, karena posisi posisi Debt to Equity Ratio (DER) masih rendah.
"Kita memang ingin optimalkan level yang ada. Kita sedang kaji itu berupa commercial dari bank Jepang," ungkap Djaja saat berbincang di Restoran Bebek Bengil, Jakarta Kamis (2/9/2010) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Utamanya JBIC karena dia semaca IFC versi Jepang. Namun belum bisa disebut kisaran, karena kita baru akan ketemu dalam waktu dekat. Banyak faktor juga, kita akan lihat berapa besar kebutuhan proyek dan mana yang memberikan bunga terbaik," katanya.
"Tingkat bunga dalam mata uang Yen kan memang sudah sangat rendah, jadi nantinya apakah floating atau fix sama saja," tambah Djaja.
Penandatanganan kontrak EPC baru saja dilakukan antara PT Indonesia Chemical Alumina (PT ICA) dengan konsorsium unincorporated PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, Tsukishima Kikai Co. Ltd. dan PT Nusantara Energi Abadi (Nusea) sebagai kontraktor EPC proyek CGA Tayan. Proyek senilai US$450 juta ini diharapkan dapat mulai produksi secara komersial pada kuartal I-2014.
Proyek CGA Tayan akan memproduksi 300.000 ton CGA per tahun. Output produksi sebesar 200.000 ton CGA akan digunakan SDK sebagai pengganti output CGA dari pabrik miliknya di Yokohama. Sementara 100.000 ton CGA akan dijual di pasar Indonesia.
Sementara itu, proyek ANTM lain, yaitu pembangunan pabrik pengolahan bijih bauksit menjadi komoditas Smleter Grade Alumina (SGA), saat ini sedang finalisasi studi. Diharapkan pabrik berkapasitas 1 juta ton per tahun siap dibangun pada triwulan I-2011 dan mulai berproduksi pada tahun 2014.
Direktur Utama ANTM, Alwin Syah Loebis menyebut, nilai investasi SGA mencapai US$ 1 miliar. Perseroan pun berencana bekerja sama dengan mitra asal China, Hangzhou Jinjang Group (HJG).
"Untuk proyek NPI (Nickel Pig Iron) Mandiodo, masih studi. Investasinya nggak besar sekitar US$ 150 juta. Kapasitas NPI 220 ribu ton dan visibility study selesai tahun ini," tegas Alwin.
(wep/dro)











































