Rinaldi: Arif Arryman Berperan Benahi Keuangan Telkom

Rinaldi: Arif Arryman Berperan Benahi Keuangan Telkom

- detikFinance
Rabu, 08 Sep 2010 10:01 WIB
Jakarta - Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Rinaldi Firmansyah merasa kehilangan sosok Komisaris Independennya Arif Arryman yang meninggal dunia kemarin. Arif berperan meningkatkan kontrol keuangan Telkom.
 
"Kami merasa betul-betul kehilangan seorang senior/saudara/kakak/komisaris/teman yang profesional, pekerja keras dan yang sangat elegan menerapkan nilai-nilai governance dan sangat menguasai masalah. Beliau sangat besar jasanya dalam mendorong pelaksanaan kontrol keuangan, audit dan governance di Telkom," ujarnya kepada detikFinance, Rabu (8/9/2010).
 
Rinaldi mengatakan, selama di Telkom, Arif sangat fokus melakukan pekerjaannya. "Dan mungkin satu-satunya ahli Sarbanes Oxley di Indonesia," imbuhnya.
 
Menurut Rinaldi, dengan meninggalnya Arif, maka masyarakat ekonomi Indonesia telah kehilangan seorang tokohnya.

Arif Arryman tutup usia akibat serangan jantung. Arif meninggal pada pukul 15.30 WIB Selasa (7/9/2010) di rumahnya.

Menurut salah satu teman dekat almarhum, Al-Hilal Hamdi, mendiang Arif juga pernah menderita sakit kanker, namun penyakitnya itu akhir-akhir ini sudah membaik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arif Arryman, dilahirkan di Bukittinggi, 3 Februari 1956, menjabat sebagai Komisaris Independen Telkom sejak tanggal 21 Juni 2002. Almarhum pernah menjabat sebagai Komisaris Independen PT Bank Negara Indonesia Tbk selama empat tahun (2001-2005) dan sebagai penasihat Menteri Koordinator Bidang Ekonomi.

Almarhum juga pernah menjadi anggota Tim Asistensi Menteri Keuangan dan saat ini juga menjabat sebagai komisaris independen PT Semen Gresik, Tbk. Arif Arryman meraih gelar sarjana Teknik Industri dari Institut Teknologi Bandung; gelarmaster dalam bidang Engineering dari Asia Institute of Technology, Bangkok, Thailand; Diplome d’Etude Approfondie dalam bidang Ekonomi dari Universite Paris-IX Dauphine,Perancis; dan gelar doctor dalam bidang Ekonomi dari Université Paris-IX Dauphine, Perancis.

(dnl/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads