"Memang PGN harus masuk ke hulu kalau dia masih mau stay. Kalau tidak akan dijepit oleh pasar yang memang rata-rata menguasai gas," ujar Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu di kantornya, Rabu (8/9/2010).
Menurut Said, kalau PGN tidak ikut masuk ke hulu, kinerja perseroan akan gamang lantaran terlalu bergantung pada produsen-produsen gas, terutama dari segi harga jual. Jika PGN tidak merambah bisnis hulu, maka dalam kondisi harga bahan baku gas menurun di pasar akan menyebabkan PGN sulit memperoleh marjin usaha yang menguntungkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh sebab itu, pemerintah melalui kementerian BUMN sebagai pemegang saham mayoritas PGN siap mendukung rencana PGN masuk sektor hulu. "Nanti pada saat RUPS, mereka (PGN) harus mengusulkan dan tidak akan mungkin lah ditolak oleh kementerian," jelas Said.
Kinerja keuangan PGN memang termegap-megap di 2010. Hingga akhir semester I-2010, pendapatan PGAS tercatat sebesar Rp 9,523 triliun, naik 5,75% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 9,005 triliun.
Pendapatan dari distribusi gas naik 7,25% menjadi Rp 8,708 triliun dari sebelumnya Rp 8,119 triliun. Kenaikan terjadi seiring dengan peningkatan volume distribusi gas sebesar 9,39% menjadi 827 MMSCFD dari sebelumnya 756 MMSCFD.
Pendapatan dari transmisi gas menurun 8,77% menjadi Rp 800 miliar dari sebelumnya Rp 877 miliar. Meski terjadi penurunan, volume gas yang ditransmisikan naik 11,01% menjadi 847 MMSCFD dari sebelumnya 763 MMSCFD.
Sedangkan pendapatan dari sewa serat optik naik tajam 66,67% menjadi Rp 15 miliar dari sebelumnya Rp 9 miliar. Jumlah pelanggan distribusi gas juga hanya meningkat tipis 1,49% menjadi 87.217 pelanggan dari sebelumnya 85.930 pelanggan.
Laba usaha PGAS tercatat sebesar Rp 4,566 triliun, naik 16,18% dari sebelumnya Rp 3,930 triliun. Sedangkan laba bersih tercatat Rp 3,206 triliun, naik tipis 0,62% dari sebelumnya Rp 3,186 triliun.
Â
Â
(dro/dro)











































