"Alhamdullillah. Terima kasih. Kalau bukan karena izin Allah tidak mungkin rencana ini disetujui oleh pemegang saham kami. Setelah tiga kali mengadakan RUPSLB pada 2001, 2005, 2010. Akhirnya disetujui juga rencana ini," ujar Direktur Utama AQUA Parmaningsih Hadinegoro usai RUPSLB di Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (22/9/2010).
Parmaningsih mengakui, dalam pengambilan keputusan dalam RUPSLB memang sulit mencapai kemufakatan mutlak alias mendapat persetujuan dari 100% pemegang saham minoritas. Namun menurutnya, keputusan hari ini sudah final dan tidak dapat diubah lagi, karena go private telah mendapat restu sebagian besar pemegang saham publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di antara pemegang saham minoritas, memang terdapat sejumlah pemegang saham yang menolak rencana tersebut dengan alasan harga yang ditawarkan terlalu rendah.
Pemegang saham minoritas ini juga menuding adanya praktik-praktik ilegal yang dilakukan manajemen AQUA. Parmaningsih angkat bicara soal ini.
"Kita sudah melaksanakan ini sesuai dengan peraturan yang diterbitkan Bapepam-LK. Bapepam-LK juga telah meneliti rencana ini, kita juga sudah memberikan keterangan kepada Bapepam-LK. Dan kita tidak akan diberikan izin kalau tidak sesuai dengan aturan. Jadi jika ada yang tidak setuju, itu hak mereka. Tapi yang jelas rapat telah menyetujui go private," paparnya.
Ia menambahkan jika pemegang saham yang tidak setuju menjual sahamnya kepada pemilik mayoritas (Tirta Investama) dalam proses tender offer November-Desember mendatang, maka mereka tetap menjadi pemegang saham di AQUA.
"Dan mereka akan sulit jika sewaktu-waktu ingin menjual sahamnya, karena harganya kembali kepada persetujuan penjual dan pembeli, tidak lagi sesuai dengan harga pasar," tambahnya.
Komposisi pemegang saham AQUA adalah PT Tirta Investama 12.419.090 saham (94,35%) dan publik 743.383 saham (5,65%). Dengan harga tender offer sebesar Rp 500 ribu per saham, maka total dana yang harus dirogoh Tirta Investama sebesar Rp 371,691 miliar.
Sementara harga saham AQUA di pasar reguler sebesar Rp 244.800 per saham, sedangkan di pasar negosiasi (NG) dan pasar tunai (TN) sebesar Rp 350.000 per saham.
(dro/dnl)











































