Managing Director IMF, Dominique Strauss-Kahn mengatakan, risiko terjadinya perang mata uang global kini masih rendah dan dia meyakini hal itu sangat kecul kemungkinannya untuk terjadi karena akan menimbulkan konflik yang besar.
"Saya tidak mareasa hari ini ada risiko perang mata uang yang besar. Namun itu adalah bagian dari risiko pelemahan. Saya kira kemungkinannya rendah, karena setiap orang dapat mengerti bahwa terlalu besar konflik... dan akan menimbulkan dampak negatif. Namun hal itu mungkin terjadi," jelas Strauss-Kahn seperti dikutip dari AFP, Rabu (29/9/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sedang berada di tengah perang mata uang internasional. Ini mengancam kita karena mengenyahkan daya saing," tegas Mantega seraya menegaskan pihaknya akan segera melakukan intervensi.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah negara mulai dari Kolombia hingga Singapura berkomitmen untuk memborong mata uang lokalnya untuk mendongkrak mata uangnya yang sudah terlalu menguat tajam. Penguatan mata uang lokal itu membuat negara-negara yang bergantung pada ekspor menjadi murka karena mengurangi daya saing produknya.
Namun komentar dari Mantega dan juga Strauss-Kahn itu dikritik para ekonom karena dinilai berlebihan.
"Pembicaraan mengenai perang mata uang sedikit berlebihan. Saya akan mengatakan, tapi jelas ada peningkatan risiko konfrontasi di tingkat yang lebih rendah dari negara-negara yang mencoba untuk melindungi ekspornya di tengah ketidakpastian global," ujar David Gilmore dari Foreign Exchange Analytics.
Perang mata uang yang masih menghangat adalah antara China dan Amerika Serikat. AS selama bertahun-tahun memprotes China yang dinilainya menahan mata uangnya agar tidak menguat untuk melindungi ekspornya. DPR AS bahkan berniat melakukan voting pada Rabu ini untuk menetapkan sanksi terhadap China karena menahan mata uangnya agar tidak menguat atas dolar AS.
(qom/qom)











































