Hal ini disampaikan oleh Senior Manager Standard Chartered, Yuniar Restanto di hotel Four Season, Jalan HR Rasuna Said Jakarta, Rabu (29/9/2010).
"Seluruhnya kalau tidak ada intervensi bisa Rp 8.800, tapi kan BI terus menjaga dengan alasan volatilitas. Mungkin akan penguatan, namun secara gradual. Pelaku usahapun harusnya bisa melakukan adjustment atas potensi penguatan rupiah ini. Ideal adjust 3-6 bulan," papar Yuniar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa juga dilakukan negara-negara lain sehingga dikhawatirkan bisa memicu perang mata uang. Seperti diberitakan sebelumnya, di tengah perekonomian global yang belum pulih, gerak mata uang sangat fluktuatif. Negara-negara di dunia saat ini saling berlomba mengintervensi mata uangnya untuk melindungi ekspor sehingga dunia pun akan menghadapi perang mata uang.
Managing Director IMF, Dominique Strauss-Kahn mengatakan, risiko terjadinya perang mata uang global kini masih rendah dan dia meyakini hal itu sangat kecul kemungkinannya untuk terjadi karena akan menimbulkan konflik yang besar.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah negara mulai dari Kolombia hingga Singapura berkomitmen untuk memborong mata uang lokalnya untuk mendongkrak mata uangnya yang sudah terlalu menguat tajam. Penguatan mata uang lokal itu membuat negara-negara yang bergantung pada ekspor menjadi murka karena mengurangi daya saing produknya.
Perang mata uang yang masih menghangat adalah antara China dan Amerika Serikat. AS selama bertahun-tahun memprotes China yang dinilainya menahan mata uangnya agar tidak menguat untuk melindungi ekspornya. DPR AS bahkan berniat melakukan voting pada Rabu ini untuk menetapkan sanksi terhadap China karena menahan mata uangnya agar tidak menguat atas dolar AS.
(dnl/qom)











































