Dolar AS Mustinya Sudah Sentuh Rp 8.800 Jika Tak 'Diganggu' BI

Dolar AS Mustinya Sudah Sentuh Rp 8.800 Jika Tak 'Diganggu' BI

- detikFinance
Rabu, 29 Sep 2010 12:30 WIB
Dolar AS Mustinya Sudah Sentuh Rp 8.800 Jika Tak Diganggu BI
Jakarta - Arus dana asing yang masuk terus-menerus membuat nilai tukar rupiah terus menguat, namun Bank Indonesia (BI) menahan laju penguatan ini. Tanpa intervensi BI, rupiah saat ini bisa menyentuh Rp 8.800/US$.

Hal ini disampaikan oleh Senior Manager Standard Chartered, Yuniar Restanto di hotel Four Season, Jalan HR Rasuna Said Jakarta, Rabu (29/9/2010).

"Seluruhnya kalau tidak ada intervensi bisa Rp 8.800, tapi kan BI terus menjaga dengan alasan volatilitas. Mungkin akan penguatan, namun secara gradual. Pelaku usahapun harusnya bisa melakukan adjustment atas potensi penguatan rupiah ini. Ideal adjust 3-6 bulan," papar Yuniar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai informasi, BI memang terus melakukan intervensi jika rupiah menguat atau melemah secara cepat. Hal ini dilakukan guna menahan tingkat volatilitas yang berlebihan agar para pelaku usaha, baik importir maupun eksportir tidak mengalami kerugian.

Hal serupa juga dilakukan negara-negara lain sehingga dikhawatirkan bisa memicu perang mata uang. Seperti diberitakan sebelumnya, di tengah perekonomian global yang belum pulih, gerak mata uang sangat fluktuatif. Negara-negara di dunia saat ini saling berlomba mengintervensi mata uangnya untuk melindungi ekspor sehingga dunia pun akan menghadapi perang mata uang.

Managing Director IMF, Dominique Strauss-Kahn mengatakan, risiko terjadinya perang mata uang global kini masih rendah dan dia meyakini hal itu sangat kecul kemungkinannya untuk terjadi karena akan menimbulkan konflik yang besar.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah negara mulai dari Kolombia hingga Singapura berkomitmen untuk memborong mata uang lokalnya untuk mendongkrak mata uangnya yang sudah terlalu menguat tajam. Penguatan mata uang lokal itu membuat negara-negara yang bergantung pada ekspor menjadi murka karena mengurangi daya saing produknya.

Perang mata uang yang masih menghangat adalah antara China dan Amerika Serikat. AS selama bertahun-tahun memprotes China yang dinilainya menahan mata uangnya agar tidak menguat untuk melindungi ekspornya. DPR AS bahkan berniat melakukan voting pada Rabu ini untuk menetapkan sanksi terhadap China karena menahan mata uangnya agar tidak menguat atas dolar AS.
(dnl/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads