Dirut Katarina Akhirnya Temui BEI

Dirut Katarina Akhirnya Temui BEI

- detikFinance
Rabu, 29 Sep 2010 17:51 WIB
Dirut Katarina Akhirnya Temui BEI
Jakarta - Direktur Utama PT Katarina Utama Tbk (RINA) Fazli bin Zainal Abidin akhirnya datang menemui Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini, setelah berkali-kali tidak memenuhi panggilan BEI.

"Saya baru bisa ketemu sekarang karena baru pulang umroh. Saya 35 hari di Mekkah," ujar Fazli kepada detikFinance di gedung BEI, SCBD, Jakarta, Rabu (29/9/2010).

Pertemuan antara Fazli dengan Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito baru saja usai. Pertemuan berlangsung selama kurang lebih 2 jam. Berdasarkan data imigrasi yang diperoleh detikFinance, Fazli telah berada di Indonesia sejak 22 September 2010.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, BEI telah berkali-kali memanggil Fazli untuk meminta kejelasan soal dugaan penyelewengan dana IPO, penggelembungan aset serta belum diselesaikannya kewajiban-kewajiban pada karyawan.

Oleh sebab itu, BEI memberikan sanksi surat peringatan tertulis I kepada manajemen RINA dan memberikan tenggat waktu bagi Fazli hingga 30 September 2010 untuk memenuhi panggilan tersebut.

Dari seluruh manajemen RINA yang ekspatriat asal Malaysia, diduga hanya tersisa Direktur Keuangan Izzuddin Mahmood yang masih bercokol di Indonesia, sedangkan Fazli dan jajaran direksi yang lain diduga telah melarikan diri ke Malaysia.

RINA memperoleh dana IPO sebesar Rp 33,6 miliar pada penawaran Juli 2009 yang rencananya digunakan untuk membeli peralatan, modal kerja serta menambah kantor cabang. Hingga saat ini, tidak ada realisasi yang signifikan dalam pembelian peralatan, modal kerja serta penambahan kantor cabang.

Sumber detikFinance menyebutkan, manajemen Katarina yang terdiri dari expatriat asal Malaysia melarikan uang tersebut untuk kepentingan pribadi. Sebagian juga diduga nyangkut di PT Optima Kharya Capital Securities yang kini sedang dalam status suspensi. Pemilik Optima diduga melarikan uang nasabah-nasabahnya sebesar Rp 1 triliun lebih, termasuk milik RINA.

Selain itu, ada indikasi kalau manajemen RINA telah melakukan penggelembungan aset dengan memasukkan sejumlah piutang fiktif dari sejumlah perusahaan. BEI dan Bapepam-LK kini tengah mengusut data-data tersebut.

 

 
(wep/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads