IHSG-Rupiah Nan Makin Perkasa

Ulasan Sepekan

IHSG-Rupiah Nan Makin Perkasa

- detikFinance
Senin, 04 Okt 2010 07:05 WIB
Jakarta - Pekan lalu rupiah dan IHSG kembali ditutup menguat dibanding pekan sebelumnya. Kurs tengah rupiah terhadap dolar AS tercatat ditutup pada level 8.921 Atau menguat 37 bips dibandingkan penutupan jumat pekan sebelumnya. Sedangkan IHSG kembali memecahkan level tertingginya di angka 3547.115 Atau tercatat menguat sensasional sebesar 4,4% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya.

"Penguatan signifikan pada IHSG dan rupiah pekan lalu didorong oleh munculnya berbagai sentimen positif baik itu dari dalam maupun luar negeri yang mendorong masifnya capital inflow," jelas Muhammad Fikri, analis dari BNI dalam reviewnya yang dikutip detikFinance, Senin (4/10/2010).

Seperti diberitakan jumat pekan lalu, pertumbuhan manufaktur China bulan agustus tumbuh sangat luar biasa, hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perekonomian China sebagai acuan ekonomi Asia kembali meningkat setelah sebelumnya turun sebagai dampak dari kekhawatiran appresiasi yuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terus meningkatnya perekonomian Asia telah menarik investor asing dari Amerika dan Eropa. Kondisi tersebut juga didorong oleh sentimen dari Amerika, dimana pekan lalu the Fed memutuskan untuk meningkatkan pembelian surat utang Amerika untuk menjaga interest rate di Amerika tetap rendah. Kondisi tersebut memaksa the Fed untuk mencetak banyak dolar AS, sehingga membuat mata uang itu terus melemah terhadap mata uang counterparts manapun di dunia.

Menurut Fikri, Investor di Amerika dan Eropa memilih untuk masuk ke bursa-bursa di Asia guna mengantasipasi terus melemahnya US dollar dan terus meningkatnya perekonomian di Asia. Dampak langsung dari kebijakan the Fed dapat dilihat dari penguatan yang signifikan pada mata uang EURO dimana EURO pada perdagangan jumat pekan lalu ditutup pada level US$ 1,3789 setelah di awal juni lalu sempat menyentuh level terendahnya di US$ 1,196.

Sedangkan dari dalam negeri diberitakan tingkat ekspor indonesia bulan Agustus mencapai level tertingginya dalam sejarah. Kenaikan ekspor yang signifikan tersebut didorong oleh tingginya ekspor non migas Indonesia, terutama naiknya harga CPO dan permintaan batubara.

"Kondisi tersebut juga menggambarkan bahwa kinerja perusahaan indonesia yang berorientasi ekspor hingga semester ke III/2010 ini sangat menggembirakan sehingga akan memberikan sentimen positif kepada investor asing," jelasnya.

Disisi lain, menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pekan lalu, angka inflasi hingga bulan agustus berada pada level 5,8% atau lebih rendah dibandingkan BI rate pada level 6,5%. Hal tersebut menunjukkan bahwa instrumen investasi di Indonesia masih memberikan real return yang cukup tinggi bagi investor bila dibandingkan dengan negara lainnya di Asia sehingga mendorong dana asing terus masuk ke bursa Indonesia dan mendorong penguatan Rupiah dan IHSG pada level tertingginya tahun ini.

Fikri menambahkan, momentum penguatan bursa saham di dunia akan di uji pekan depan dengan dirilisnya beberapa data ekonomi penting, seperti angka pengangguran di Amerika serta prediksi laporan keuangan emiten untuk kuarter ke III/2010. Baik buruknya realisasi dari data ekonomi tersebut akan menjadi trigger pergerakan bursa saham dunia minggu depan.

"Namun demikian, bursa saham Indonesia minggu depan diprediksi akan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah. Pelemahan diprediksi terjadi mengingat selama pekan lalu pergerakan indeks belum pernah mengalami koreksi," imbuh Fikri.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads