"Buat kita yang penting rights issue BNI sukses, karena yang terjadi pada BNI akan berpengaruh ke kita," ujar Chief Financial Officer BMRI, Pahala N Mansury di Restoran Duck King Grand Indonesia, Jakarta Minggu (3/10/2010) malam.
Sebelumnya Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sepakat mendahulukan rights issue BNI ketimbang Bank Mandiri. Alasan yang dikemukakan Menteri BUMN, Mustafa Abubakar adalah kebutuhan penambahan modal BNI yang mendesak dan dinilai paling siap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan skenario pekan kedua Oktober BNI baru akan memulai registrasi, maka diharapkan paling lambat pada pertengahan November segala proses sudah tuntas. Jika jadwal mengalami pemunduran, maka bahaya untuk Bank Mandiri. Karena rights issue BMRI pun bisa molor.
Pahala mengakui paruh kedua 2010 memang waktu yang tepat untuk menggelar aksi rights issue. Pasalnya kondisi pasar modal Indonesia sedang tumbuh hingga diyakini penerbitan saham baru oleh emiten, pasti akan diserap pasar. Dan tidak perlu ada kekhawatiran kekurangan permintaan.
"Kami memang siap-siap (rights issue) setelah BNI, untuk menjaga momentum emas agar tidak sampai terlewat," ucapnya.
Sebelumnya BMRI mengusulkan kepada pemerintah agar rights issue mereka dilakukan lebih dulu dari BNI. Alasan utama Bank Mandiri adalah agar rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tidak terus tergerus di bawah 12 persen pada akhir tahun 2011 nanti.
"Tanpa rights issue CAR kita 11,8%, masih aman. Namun dengan ekpektasi pertumbuhan kredit 20-22%, pada tahun 2011 harus ada sesuatu untuk mendongkrak CAR kita. Kalau tidak harus ada revisi target. Padahal dengan rights issue, CAR kita bisa naik 4%," tegas Pahala.
Bank Mandiri berniat untuk menggelar rights issue dengan target dana sebanyak Rp 12-15 triliun. Selain itu, BNI juga berniat melakukan hal yang sama untuk menggenjot kepemilikan modalnya, namun target dananya hanya Rp 10 triliun.
Β
Β
(wep/dro)











































