"Kami sudah tidak dibayarkan gaji sejak tiga bulan terakhir. Dan gaji yang sebelumnya pun selalu telat, hampir 2 minggu. Kami masih kasih toleransi, tapi sekarang tidak," ungkap salah satu karyawan RINA, Hasan Basri kepada detikFinance di kantornya pusat Katarina, Jakarta, Selasa (5/10/2010).
Ia menambahkan, selama ini manajemen RINA utamanya Direktur Utamanya, Fazli bin Zainal Abidin memang menawarkan langkah untuk berdamai. Dan sejatinya Hasan serta karyawan lainnya yang bernama Sofyan bisa menerima penawaran itu asalkan kewajiban perseroan karyawan terpenuhi terlebih dahulu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, karyawan juga menuntut janji manajeman untuk mengangkat status mereka dari sebelumnya pekerja lepas menjadi pekerja kontrak. Padahal janji ini sudah tercetus sejak tahun lalu.
"Kami freelence, ingin diangkat menjadi kontrak sesuai dengan janji manajeman. Udah dijanjikan tahun lalu. Tapi enggak ada realisasi dan tidak ada alasan kenapa. Bahkan semua karyawan kontrak sudah di-freelence-kan," paparnya.
"Dan untuk kantor cabang di Pekanbaru, Surabaya dan Palembang, itu enggak ada. Kita dapat info, dana IPO sudah turun sampai Rp 30 miliar lebih. Harusnya untuk dana karyawan," ucapnya.
(wep/ang)











































