Demikian diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution dalam jumpa pers di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (05/10/2010).
"Jika diperhatikan, apakah rupiah menguat? Ya terapresiasi, tetapi apakah kita yang paling tinggi penguatannya? Tidak. Apakah yang paling rendah? Tidak. Kita itu ada di tengah-tengah dibandingkan negara lain," ujar Darmin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, sambung Darmin di negara Brazil UBCN 2,33% India Rupe 3,52% dan China Yuan 2,08%. Darmin menjelaskan apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS disebabkan oleh arus modal masuk (capital inflow) yang cukup deras. Bank sentral mengupayakan untuk tetap menjaga tingkat volatilitas nilai tukar rupiah agar tidak terlalu tinggi. "Tetapi jangan lupa, kita juga menjaga agar rupiah tidak terlalu kuat," ungkapnya.
Menurutnya, bank sentral berusaha memelihara tingkat volatilitas nilai tukar rupiah agar tidak memburuk. Hal tersebut dilakukan dengan sebuah kebijakan umum seperti one month holding period (satu bulan minimal) untuk pemegang Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Tetapi, lanjut Darmin yang perlu dicatat Indonesia tidak kehilangan tingkat kompetisi (competitiveness) jika dibandingkan dengan mata uang negara lain.
"Kalau kita dikatakan kehilangan competitiveness terhadap negara tetengga kita tidak. Dari data tadi terlihat bahwa dengan Malaysia dia jauh lebih tinggi dengan Thailand Bath. Peso pun hampir sama dengan kita artinya kita berada di tengah-tengah tidak terlalu tinggi maupun rendah," katanya.
"BI berusaha memelihara agar volatilitas nilai rupiah jangan terlalu besar sehingga dunia usaha bisa berhitung lebih kuat," imbuh Darmin.
(dru/dnl)











































