Ekonom dari Bank Danamon, Anton Hendranata mengatakan, sentimen negatif perkembangan data ekonomi AS pada bulan September dan masih labilnya perekonomian kawasan Uni Eropa, tidak menyebabkan investor bersifat risk averse.
"Derasnya aliran modal asing ke perekonomian domestik membuat Rupiah bertahan pada level di bawah Rp 9.000/USD. Nilai beli bersih investor asing di pasar saham melejit mencapai Rp 6 triliun pada bulan September dari Rp 2 triliun pada bulan sebelumnya," jelas Anton dalam tinjauan perekonomian bulanan yang dikutip detikFinance, Kamis (7/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara rata-rata selama bulan September, kinerja Rupiah terhadap dolar AS mulai tertahan penguatannya. Rupiah telah melemah tipis sebesar 0,01%. Sementara itu, indeks mata uang Asia dan indeks mata uang utama dunia terhadap dolar AS menguat masing-masing sebesar 1,11% dan 1,30%.
Untuk posisi cadangan devisa Indonesia juga terus menanjak menjadi US$ 86,6 miliar pada akhir September dari US$ 81,3 miliar pada bulan sebelumnya.
"Seiring dengan kenaikan cadangan devisa yang sedemikian pesat, kami perkirakan BI akan lebih akomodatif terhadap penguatan rupiah ke depannya, terutama bila mata uang regional lainnya juga menguat terhadap dolar AS. Maka itu dalam jangka pendek, nilai tukar bisa bergerak ke bawah Rp 8.900/US$ walaupun proyeksi akhir tahun kami masih di Rp 9.075/USD," urai Anton.
(qom/qom)











































