"Investor kembali memburu aset finansial yang berisiko tinggi di kawasan Emerging Markets/negara berkembang, khususnya di Asia karena pertumbuhan ekonominya yang jauh lebih baik dan menariknya imbal hasil investasi dibandingkan dengan AS dan kawasan Uni Eropa,"Β Ekonom dari Bank Danamon, Anton Hendranata dalam tinjauan perekonomian bulanan yang dikutip detikFinance, Kamis (7/10/2010).
Hal itulah yang selanjutnya menyebabkan arus modal asing berbondong-bondong masuk ke kawasan Emerging Markets. Anton menambahkan, kondisi inilah yang menyebabkan Dolar AS melemah terhadap mata uang utama dunia dan mata uang Asia, masing-masing sebesar 5,4% dan 2,6% selama bulan September.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara beruntun, perkembangan sebagian besar indikator mikro dan makro ekonomi penting cederung memburuk dan stagnan. Aktivitas kegiatan produksi di sektor manufaktur dan jasa masih menunjukkan kelesuannya. PMI sektor manufaktur dan non-manufaktur terus mengalami penurunan selama 4 bulan terakhir dan menuju ke level kontraksi," urainya.
Buruknya aktivitas produksi menyebabkan tingkat pengangguran tidak berangsur turun. Tingkat pengangguran masih berkutat pada level yang tinggi. Bahkan pada bulan Agustus 2010 telah terjadi peningkatan pengangguran menjadi 9,6% dari 9,5% pada bulan sebelumnya. Untungnya, lanjut Anton, di saat tingkat pengangguran naik, ternyata telah terjadi penurunan inital jobless claim menjadi 453 ribu orang pada bulan September dari 473 ribu orang pada bulan Agustus.
Kesempatan kerja yang terbatas menyebabkan terhambatnya masyarakat AS untuk memperoleh pendapatan untuk membiayai kehidupan sehari-harinya. Kondisi ini makin memukul dan memperberat pulihnya sektor perumahan di AS. Tren kredit macet terus meningkat, begitu juga dengan penyitaaan terhadap aset-aset kredit macet. Lesunya aktivitas di sektor perumahan, tercermin juga dari rendahnya izin mendirikan bangunan dan kepemilikan rumah baru.
"Lunglainya perekonomian AS juga terlihat dari defisit perdagangan yang masih besar. Data terakhir bulan Juli mengalami defisit sebesar US$ 42,8 miliar dari US$ 49,9 miliar pada bulan Juni 2010," jelas Anton.
Buruknya pemulihan perekonomian AS menyebabkan kepercayaan konsumen makin menurun selama 4 bulan terakhir. Indeks kepercayaan konsumen cenderung berkutat di daerah pesimis (indeks < 100) dan sulit melepaskan diri menuju level optimis. Indeks kepercayaan konsumen tercatat pada level 48,5 pada bulan September dari 53,5 pada bulan Agustus 2010.
Lemahnya pemulihan perekonomian AS direspon oleh kebijakan Bank Sentral AS yang tetap memberikan stimulus moneter dengan mempertahankan suku bunga acuannnya pada level 0,25% dan melakukan kebijakan quantitative easing dengan membeli obligasi pemerintah AS. Hal itu menyebabkan imbal hasil US T-note bertahan di level yang sangat rendah.
"Kebijakan Bank Sentral AS ini harus diwaspadai karena memperbesar utang pemerintah AS. Jika kebijakan Bank Sentral ini kurang efektif dan tren pemulihan ekonomi AS makin buruk maka bukanlah hal yang tidak mungkin akan terjadi resesi ekonomi dunia lagi (double dip)," beber Anton.
(qom/qom)











































