IHSG Masih Aman dari Perang Mata Uang

Ulasan Sepekan

IHSG Masih Aman dari Perang Mata Uang

- detikFinance
Senin, 11 Okt 2010 06:50 WIB
Jakarta - Seperti telah diprediksi sebelumnya, IHSG dan rupiah pada perdagangan akhir pekan lalu kompak ditutup melemah tipis dibandingkan posisi jumat pekan sebelumnya. Setelah sempat mencatatkan level tertingginya di angka 3603,4, pada akhirnya IHSG ditutup turun pada level 3546,95 atau tercatat melemah 1 poin dibandingkan pekan sebelumnya.

Sedangkan kurs tengah rupiah ditutup pada level perdagangan 8922 per dolar AS atau ditutup melemah 1 pips dibandingkan pekan sebelumnya di level 8921 per dolar AS.

"Kondisi pelemahan terhadap bursa dan rupiah tersebut didorong oleh aksi profit taking yang dilakukan investor asing setelah IHSG menguat selama 8 hari berturut-turut," jelas Muhammad Fikri, analis dari BNI dalam review-nya, Senin (11/10/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sentimen negatif yang datang dari Amerika pekan lalu, lanjut Fikri, menjadi momentum bagi investor untuk melakukan aksi profit taking di bursa saham. Seperti diketahui pekan lalu departemen tenaga kerja Amerika Serikat merilis data bahwa ekonomi Amerika pada bulan september telah kehilangan 95.000 pekerjaan, sedangkan sektor swasta Amerika mencatatkan pertumbuhan 64.000 pekerjaan pada bulan yang sama.

Kondisi tersebut memaksa angka pengangguran di Amerika untuk bulan september tahun ini tetap berada pada level yang tinggi yaitu 9,6%. Data yang dirilis tersebut jauh diluar prediksi para analis sehingga menimbulkan kekhawatiran dipasar.

"Walaupun demikian sentimen tersebut tidak berlangsung lama karena the Fed kembali menegaskan komitmennya mengucurkan stimulus untuk menggerakkan ekonomi Amerika," ujar Fikri.

Sentimen dari the Fed pada akhirnya membuat investor kembali bergairah dan mendorong penguatan Dow Jones ke posisi tertingginya dalam 5 bulan terakhir diangka 11.006.

Penguatan yang terjadi pada Dow Jones akhir pekan lalu diprediksi akan berimbas ke bursa saham indonesia pekan ini, sehingga IHSG pekan ini kembali diprediksi menguat walaupun masih dalam kisaran yang sempit.

Disamping sentimen eksternal, penguatan IHSG minggu ini akan dimotori oleh sentimen dari dalam negeri yaitu positifnya laporan keuangan para emiten di bursa Indonesia. Pekan ini sebagian emiten di bursa akan merilis laporan keuangannya untuk kuarter ke III/ 2010, dimana diprediksikan laporan keuangan para emiten tersebut akan mencatatkan pertumbuhan yang positif.

Fikri menambahkan, diluar sentimen tersebut, untuk beberapa waktu kedepan, isu mengenai perang kurs antara beberapa negara ekonomi kuat dunia bakal menjadi perhatian analis. Perang kurs yang telah dimulai ini dikhawatirkan dapat menghambat proses pemulihan ekonomi dunia dan menimbulkan kekhawatiran di pasar.

Seperti diketahui, saat ini terjadi apresiasi mata uang di sejumlah negara Asia, sedangkan di kategori depresiasi terjadi di AS. Berbagai negara saat ini berupaya untuk memperlemah posisi mata uangnya guna mendongkrak kinerja ekspornya.

Yang menarik perhatian, dilakukan oleh Jepang dimana untuk pertama kalinya dalam 6 tahun terakhir, Jepang melakukan intervensi dipasar uang dengan menjual mata uang yen. Sejumlah negara lainnya dipercaya juga menempuh jalan serupa. Hal tersebut tentu menjadi kekhawatiran mengingat volatilitas nilai tukar akan semakin meningkat dan tidak terkendali.

"Walaupun kekhawatiran terhadap dampak dari perang kurs tersebut masih belum dirasakan investor di bursa saham namun dampaknya terhadap upaya pemulihan ekonomi dunia patut untuk diperhatikan. Disisi lain perang kurs tersebut juga menunjukkan bahwa negara-negara dunia tidak bekerja sama dengan baik dalam upaya pemulihan ekonomi dunia," urai Fikri.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads