Krakatau Steel Bidik Penjualan Baja 2,1 Juta Ton

Krakatau Steel Bidik Penjualan Baja 2,1 Juta Ton

- detikFinance
Selasa, 12 Okt 2010 16:11 WIB
Krakatau Steel Bidik Penjualan Baja 2,1 Juta Ton
Jakarta - PT Krakatau Steel (Persero) menargetkan penjualan baja hingga akhir tahun 2010 mencapai 2,1 juta ton atau mengalami perbaikan hingga 10% dibandingkan tahun sebelumnya, 1,996 juta ton.

Demikian disampaikan Direktur Pemasaran KS Irvan Hakim saat ditemui dalam penawaran umum perdana saham perseroan di Ritz Carlton Pacific Place, SCBD Jakarta, Selasa (12/10/2010).

"Penjualan ada perbaikan dari sekitar 2 juta ton akan plus 10%," ungkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tiga tahun terakhir, penjualan baja perseroan memang mengalami penurunan. Dan hingga akhir tahun 2009, penjualan baja KS mencapai 1,996 juta ton, turun dibandingkan tahun 2008 yang mencapai 2,062 juta ton.

Dengan membaiknya perekonomian dunia, permintaan bahan baku baja di sektor energi serta pertumbuhan infrastruktur terus meningkat. Kondisi ini membawa kembali kondisi perseroan dalam keadaan stabil.

Pada semester I-2010 saja penjualan baja KS telah mencapai 1,153 juta ton. Meningkat dibandingkan posisi yang sama tahun lalu, 885 ribu ton.

BUMN  baja ini memproduksi ragam produk baja, dengan produk utama adalah baja lembaran. Produk HRC untuk industri dalam negeri mencapai 8,3-8,4 juta ton. Khusus untuk baja lembaran, permintaannya mencapai 2,3 juta ton.

"Di tahun depan kita ingin jaga market share 65%. Di tahun 2009 kapasitas perseroan mencapai 2 juta ton," ungkapnya.

Sementara itu untuk produk CRC, total permintaan tahun lalu mencapai 1,4 juta ton. Dimana porsi KS mencapai 850 ribu ton, atau setara dengan 33%. Dan untuk wire rod, KS mengkontribusikan 700 ribu ton, dari total permintaan dalam negeri 800 ribu ton.

Sementara itu terkait, serbuan baja asal Cina, perseroan mengaku tidak terlalu khawatir. Termasuk ancaman perdagangan dumping. "Pertambangan di Cina memang 50% dari dunia. Ke depan kita terus lakukan perundingan dengan China Industrial Steel. Mereka kurangi ekspor karena mata uang mereka, Yuan, akan lebih fleksibel," ucap Irvan.

"Cina memiliki masalah struktural dengan bijih besi yang masih harus impor, ini menjadi komponen utama. Dan kebijakan memberi insentif kalau bahan baku impor, tidak menguntungkan," tegasnya.

Salah satu cara membendung serbuan baja impor, menurut Direktur Utama KS, Fazwar Bujang, dengan meningkatkan label Standar Nasional Indonesia (SNI).

"(Baja) yang masuk Indonesia semua ga standar. Produk Cina tidak punya daya saing. Non standar yang beli biasanya yang kecil-kecil. Kalau pelanggan besar tidak beli baja Cina terus-menerus," imbuhnya.

 

 

(wep/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads