Demikian disampaikan Direktur Pemasaran KS Irvan Hakim saat ditemui dalam penawaran umum perdana saham perseroan di Ritz Carlton Pacific Place, SCBD Jakarta, Selasa (12/10/2010).
"Penjualan ada perbaikan dari sekitar 2 juta ton akan plus 10%," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan membaiknya perekonomian dunia, permintaan bahan baku baja di sektor energi serta pertumbuhan infrastruktur terus meningkat. Kondisi ini membawa kembali kondisi perseroan dalam keadaan stabil.
Pada semester I-2010 saja penjualan baja KS telah mencapai 1,153 juta ton. Meningkat dibandingkan posisi yang sama tahun lalu, 885 ribu ton.
BUMN baja ini memproduksi ragam produk baja, dengan produk utama adalah baja lembaran. Produk HRC untuk industri dalam negeri mencapai 8,3-8,4 juta ton. Khusus untuk baja lembaran, permintaannya mencapai 2,3 juta ton.
"Di tahun depan kita ingin jaga market share 65%. Di tahun 2009 kapasitas perseroan mencapai 2 juta ton," ungkapnya.
Sementara itu untuk produk CRC, total permintaan tahun lalu mencapai 1,4 juta ton. Dimana porsi KS mencapai 850 ribu ton, atau setara dengan 33%. Dan untuk wire rod, KS mengkontribusikan 700 ribu ton, dari total permintaan dalam negeri 800 ribu ton.
Sementara itu terkait, serbuan baja asal Cina, perseroan mengaku tidak terlalu khawatir. Termasuk ancaman perdagangan dumping. "Pertambangan di Cina memang 50% dari dunia. Ke depan kita terus lakukan perundingan dengan China Industrial Steel. Mereka kurangi ekspor karena mata uang mereka, Yuan, akan lebih fleksibel," ucap Irvan.
"Cina memiliki masalah struktural dengan bijih besi yang masih harus impor, ini menjadi komponen utama. Dan kebijakan memberi insentif kalau bahan baku impor, tidak menguntungkan," tegasnya.
Salah satu cara membendung serbuan baja impor, menurut Direktur Utama KS, Fazwar Bujang, dengan meningkatkan label Standar Nasional Indonesia (SNI).
"(Baja) yang masuk Indonesia semua ga standar. Produk Cina tidak punya daya saing. Non standar yang beli biasanya yang kecil-kecil. Kalau pelanggan besar tidak beli baja Cina terus-menerus," imbuhnya.
(wep/dro)











































