Direktur Indofood Franciscus Welirang mengatakan, isu negatif yang menimpa Indomie menunjukkan produk tersebut dipandang oleh masyarakat internasional, sehingga sangat potensial untuk ekspor. Menurutnya, dari kasus ini terlihat bahwa secara tidak langsung konsumen di Taiwan lebih memilih Indomie ketimbang produk mi instan lain.
"Ini bagus sekali. Berarti kan (Indomie) laku sekali di Taiwan, hingga banyak importir yang distribusi," ungkap Fransiskus kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (15/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, media-media di Taiwan sempat mengabarkan penarikan Indomie dari sejumlah supermarket. Indomie ditarik karena mengandung Methyl P-Hydroxybenzoate yang dilarang di Taiwan. Tidak hanya di Taiwan, dua jaringan supermarket terbesar di Hong Kong juga menyetop penjualan produk Indofood itu. Pemerintah Hong Kong pun akan melakukan tes uji produk Indomie.
Namun, berdasarkan rilis resmi Indofood CBP Sukses Makmur, selaku produsen Indomie menegaskan, produk mie instan yang diekspor ke Taiwan sudah memenuhi peraturan dari Departemen Kesehatan Biro Keamanan Makanan Taiwan. BPOM juga telah menyatakan Indomie tidak berbahaya. BPOM juga telah menyatakan Indomie produksi Indofood aman.
"Memang potensi sangat besar untuk ekspor. Kita tahu, Taiwan banyak org Indonesia. Ada 180 ribu orang Indonesia di Taiwan yang menjadiΒ pekerja di sana," tutur Fransiskus.
Perseroan pun telah menghadap DPR Kamis (14/10/2010) lalu, untuk melakukan sosialisasi mengenai kandungan dalam Indomie. INDF juga mengaku produk Indomie yang beredar di Indonesia menggunakan bahan pengawet yang masih dalam batas aman dan sesuai dengan standar internasional.
"Mudah-mudahan dengan sosialisasi ini bisa membantu produk-produk lain tidak hanya milik Indofood," terangnya kemarin.
(wep/dnl)











































